Kamis, 26 September 2024

SATU TITIK YANG BERARTI UNTUK MEMBENTUK TITIK-TITIK LAIN

DAD Komisariat Djazman Al-Kindi 2022

—karena kumpulan titik-titik bisa membentuk sebuah garis, dan begitu seterusnya 

Pada awal tahun 2021 lepas saya ingin melanjutkan pendidikan di luar kota.

Tapi karena terjerat oleh takdir, saya masih berdiri di kota kelahiran ini.

Terjebak dengan hiruk pikuk Kota Ponorogo yang itu-itu saja selama 20 tahun saya dilahirkan.

Dalam pikiran saya, kala itu rasanya sungguh menyebalkan, melihat teman-teman saya sudah mulai meninggalkan sangkar mereka.

Berkelana jauh, untuk mencari jati diri dan bertemu dengan orang-orang baru untuk membangun relasi.

Dan saya jujur, merasakan iri. Tidak bisa dipungkiri bahwa raga dan jiwa ini harus menetap di kota kelahiran ini.

Rasanya seperti ada akar-akar yang mengikat kedua kaki saya, agar tidak pergi terlalu jauh. 

Padahal saya sudah membayangkan untuk lima tahu ke depan, saya bisa kembali ke kota kelahiran dengan banyak pengalaman yang didapatkan dari hasil merantau.

Tapi kembali, dengan menggunakan sudut pandang positif, saya mengambil hikmah atas semua yang telah terjadi.

Dan kisah keseharian itu pun dimulai saat awal masuk kuliah. 

Setelah lulus dari SMA, saya memutuskan untuk kuliah di Universitas Muhammadiyah Ponorogo, dengan mengambil progam S1 Pendidian Pancasila dan Kewarganegaraan, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.

Awalnya, kuliah di swasta serta perguruan tinggi yang bernuansa islami menjadi hal yang saya sangat hidari. 

Tapi takdir malah berkata lain. 

Ternyata lewat doa-doa yang saya hantarkan kepada yang pencipa di sepertiga malam, membawa saya ke jalan pilihan terbaik-Nya. 

Sejak saat itu, saya bertekad untuk serius dan semangat menjalani perkulihan, karena banyak sekali harapan dan doa-doa dari orang tua yang saya genggam. 

Menurut saya pribadi, Muhammadiyah merupakan sebuah organisasi yang berbeda dengan organisasi lainnya.

Dan bahkan saat pertama kali saya mendapatkan brosur, tentang IMM—suatu organisasi Otonom Muhammadiyah, saya tidak terlalu tertarik.

Tekad dalam hati, masih kuat bahwa saya hanya ingin kuliah dan lulus tepat waktu tanpa harus mengenal Muhammadiyah lebih jauh.

Cukup tahu saja.

Tapi makin jauh, saya selalu berpikir ulang.

Mencoba mencari-cari potongan puzzle yang terasa masih kosong dalam kepala.

Saya bertanya kepada diri sendiri.

Kenapa kamu berada di sini? 

Apa yang sebenarnya kamu cari selama ini? 

Lalu setelahnya, saya mulai tahu lebih dalam tentang IMM, atau Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah.

Titik tinta yang lain tergores dalam kertas dan membentuk sebuah garis yang samar.

Rasa penasaran yang saya miliki semakin meluap hingga menggebu. 

Karena faktor orang tua, juga faktor pengalaman yang telah terjadi di masa lalu, saya tidak langsung bergabung ke dalam Organisasi IMM pada semester 1 awal.

Orang tua sendiri, terlalu was-was apabila saya memilih jalan yang salah.

Sedangkan pengalaman itu sendiri berasal dari SMA. 

Karena terlalu banyak ikut organisasi di SMA, ada beberapa yang tidak bisa terprogres dengan benar, hingga terbelakangi begitu saja. 

Hingga awal semester 3, saya mulai ikut dalam Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Ponorogo.

Mulai sejak itu, ada cahaya yang seakan memasuki ruang yang pernah gelap gulita. 

Menjadi pelita untuk meraih sebuah asa.

Restu orang tua didapat dan hati telah mantap.

Pada awalnya saya masuk bersama kedua rekan perempuan satu prodi, tapi belum sampai Darul Aqram Dasar, mereka berdua menghilang tertelan bumi.

Tapi dengan tekad yang saya miliki saya tetap berusaha mengikuti rangkaian yang ada.

Padahal jika saya versi yang dulu, apabila tidak ada teman yang menemani saya memilih berhenti di jalan, bahkan berlari begitu saja menghadapi kenyataan di depan mata.

Tapi saat itu, bermodalkan tekad saya ikut DAD yang diadakan oleh Komisariat Djazman Al-Kindi.

DAD Komisariat Djazman Al-Kindi 2022

Kegiatan DAD (Darul Aqram Dasar) diadakan di MA Muhammadiyah 7 Ponorogo.

Saya bergabung  dengan mahasiswa semester 1, dan saat itu juga saya merasa kalau IQ yang saya miliki meningkat sekian persen setelah mengikuti rangkaian acara di sana.

Banyak mahasiswa-mahasiswa berpikiran kritis di dalamnya, sehingga membuat saya merasa tertantang.

Malahan saya bisa mengekspor banyak hal, bahkan untuk pengalaman yang saya dapatkan setimpal hingga bisa diterapkan di dalam lingkungan luar kampus maupun di dalam ruang kelas. 

Saya tidak menyesal ikut bergabung dengan IMM. Saya merasa senang untuk kali ini saya diberikan kesempatan menceritakan secuil kisah saya mejadi bagian dari IMM Komisariat Djazman Al-Kindi.

Semoga cerita ini bisa menginspirasi banyak orang. 

Yang mampu saya sampaikan yaitu, bahwa jangan pernah menganggap remeh sebuah titik yang terdapat di sebuah kertas, karena dari titik tersebut apabila bersatu bisa membentuk sebuah garis dan seterusnya.

Anggap saja titik-titik itu sebuah proses, tidak perlu penghapus untuk menghilangkannya.

Karena anggap saja sebagai sebuah pembelajaran yang bisa berguna untukmu maupun orang lain.

Dan satu lagi, untuk tidak ragu menggunakan sudut pandang lain dalam menghadapi satu hal. 

Ibu saya selalu berkata, bahwasannya kehidupan manusia itu seperti roda berputar.

Kadang di atas, kadang pula di bawah.

Hari ini memang belum beruntung, tapi suatu saat nanti pasti bisa mengambil untung tersebut.   

(IMMawati Anindya)

SEPUTAR DJAZMAN AL-KINDI DAN IMM



Pada dunia aktivis, tokoh Djazman Al-Kindi terdengar sangat familiar.

Hal tersebut dikarenakan pusat sentral pemikiran Djazman Al-Kindi yang menginspirasi kalangan Muhammadiyah.

Djazman juga aktif dalam pemikiran pendidikan, namun tidak hanya itu Djazman juga dikenal sebagai kunci berdirinya suatu organisasi terbesar yakni IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah) pada tanggal 14 Maret 1964. 

Djazman Al-Kindi yang saat itu merupakan penggagas dan pendiri Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah bersama rekan-rekannya yang mana beliau diamanahkan menjadi ketua umum IMM.

Rekannya bernama M. Husni Thamrin, A. Rosyad Saleh, Soedibjo Markoes, Moh. Arief, dan lain-lain menjadi anggota pimpinan dinaungan Djazman Al-Kindi.

Muhammad Al-Kindi ialah putra dari Penghulu Wardan Diponingrat dengan Siti Juwariyah (cucu KH Ahmad Dahlan) lahir pada tanggal 06 September 1938.

Beliau menempuh pendidikan formal di Yogyakarta tepatnya Sekolah Rakyat Muhammadiyah, SMP Muhammadiyah, dan SMA Muhammadiyah.

Kemudian Djazman Al-Kindi meneruskan studi lanjutnya ke Universitas Gadjah Mada dan mendapat gelar Sarjana Muda Sastra dan Kebudayaan.

Lulus dan mendapat Sarjana Geografi dari UGM tahun 1965.

Selanjutnya mengikuti Management Course pada University of Malaya, Kuala lumpur, Malaysia tahun 1968 dan Non-Degree Program pada Institute of Islamic Studies Mc.Gill University, Montreal, Kanada.

Sejak tahun 1961, Djazman yang ketika itu masih berada di UGM bersama tokoh-tokoh muda lainnya dari kampus yang berbeda berpendapat agar cepat melepaskan diri dari Pemuda Muhammadiyah kemudian membentuk organisasi sendiri.

Namun, asumsi tersebut ditolak banyak orang dan ada sedikit perdebatan yang memanas. 

Kemudian tiga tahun setelahnya barulah Djazman Al-Kindi mendapatkan setitik harapan dan terbentulah organisasi yang diberi nama Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah.

Bersama istri tercintanya, Djazman Al-Kindi membesarkan nama IMM dengan suka cita dan penuh perjuangan.

Beliau terus menyiarkan kepada anak-anak Muhammadiyah seperti yang tertuang dalam Mars IMM, “Niat telah diikrarkan, kitalah cendekiawan berpribadi, susila, cakap, takwa kepada Tuhan, Sejarah umat telah menuntut bukti.”

Djazman Al-Kindi adalah salah satu contoh teladan dalam penerapan pendidikan yang sangat mencerahkan.

Selain menjadi tokoh pendidikan, beliau juga sekaligus menjadi kader Muhammadiyah, kemudian beliau dikenal sebagai praktisi akademi yang kala itu menjadi rektor. 

Disatu sisi, Djazman Al-Kindi terus berupaya membangun IMM lebih maju lagi dan berpesan kepada anak-anak muda Muhammadiyah, “Jadikanlah IMM sebagai organisasi untuk belajar, untuk beramal, dan untuk mengabdi, sehingga IMM mampu terus melahirkan gagasan pembaruan dan menjadikan Ikatan sebagai gerakan ide dan melaksankan idenya”.

 (IMMawati Siti Khoirul Bariyah)


Studi Independen Kewargaan PPKn UMPO: Meneguhkan Kepemimpinan, Kebangsaan, dan Kearifan Lokal di Pulau Dewata

Karya: Muhammad Hussain Syawaludin Utama Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) Universitas Muhammadiyah Ponorogo (UM...