Saat ini, dunia tengah menghadapi era "revolusi industri 4.0" yang ditandai dengan pesatnya perkembangan teknologi digital yang dinamis. Namun, pada awal 2019 seorang perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe memperkenalkan konsep baru yang menarik perhatian dunia. Dalam Word Economic Forum di Davos Swiss, Shinzo Abe menyampaikan gagasan tentang "Society 5.0", atau dapat dikenal sebagai revolusi industri 5.0. Berbeda dengan era 4.0 yang lebih berpusat pada teknologi digital serta artificial intelligent, era 5.0 lebih berpusat pada manusia itu sendiri untuk dapat memaksimalkan sumber daya manusia dalam rangka pemanfaatan teknologi yang ada. Era society 5.0 ditandai dengan adanya pandangan tentang bagaimana manusia dan mesin bekerja sama dalam peningkatan sarana dan efisiensi suatu pekerjaan.
Pesatnya perkembangan zaman yang ditandai dengan perkembangan teknologi, sumber daya manusia dan aspek-aspek lain, tentu memunculkan tantangan baru yang harus dihadapi generasi kini. Salah satunya adalah dalam dunia pendidikan. Apabila ditinjau dari segi perkembangan ilmu pengetahuan, tentu di era 5.0 ini dunia pendidikan berkembang jauh lebih baik dibanding era sebelumnya. Ada banyak faktor yang mempengaruhi hal tersebut, diantaranya adalah berkembangnya AI, kemudian mudahnya akses terhadap informasi dan sumber belajar, dan lain-lain. Namun, apabila ditinjau dari sudut pandang pendidikan Islam, sesungguhnya yang terjadi adalah sebaliknya. Ditengah pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan, sejatinya yang terjadi adalah degradasi pendidikan. Fenomena saat ini yang marak terjadi adalah orang-orang yang mengutamakan pendidikan umum cenderung tidak mengutamakan pendidikan agama, dan hal ini berlaku sebaliknya. Selanjutnya fenomena ini dikenal dengan sebutan "dikotomi pendidikan".
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, dikotomi dapat diartikan sebagai pembagian di dua kelompok yang saling bertentangan. Adapun secara istilah, dikotomi dapat dipahami sebagai suatu pemisahan antara ilmu umum dan ilmu agama. Fenomena ini turut menghadirkan masalah krusial berikutnya dalam sudut pandang pendidikan Islam, yakni tidak terpatrinya pandangan orang moderen dan hasil temuannya dengan Maha Penciptanya. Problem adanya dikotomi antara ilmu umum dan ilmu agama mengakibatkan tidak berkembangnya ilmu pengetahuan dan terjadinya krisis metodologi keilmuan. Krisis yang terjadi dalam dunia pengetahuan dan pendidikan Islam saat ini mengakibatkan tradisi keilmuan menjadi statis, sehingga pendidikan Islam belum menunjukkan perannya secara maksimal dalam menciptakan peradaban yang maju, seperti masa kejayaan Islam pada abad 8-13 M silam.
Kondisi pendidikan saat ini tentu tidak dapat sepenuhnya dibandingkan dengan era tersebut. Tantangan yang dihadapi pun sudah berbeda. Berkaitan dengan era 5.0 yang bertabur AI dan segala bentuk kecanggihan teknologi, menjadikan masalah yang dihadapi semakin kompleks. Generasi kini mengalami banyak tuntutan dari berbagai sisi, yang memungkinkan tidak maksimalnya perkembangan potensi seseorang akibat terlalu banyak hal yang mesti dikuasai. Setidaknya, dalam era society 5.0, seseorang dituntut untuk memiliki kemampuan berikut :
1. Keterampilan Digital
2. Pemahaman teknologi dan inovasi
3. Pendidikan yang relevan
4. Sikap adaptif
5. Mental yang siap
6. Komunikasi, kolaborasi, dan berpikir kritis.
Dengan semakin kompleksnya tantangan yang dihadapi generasi pada abad 21 ini, tidak menutup kemungkinan terjadinya degradasi pendidikan, dengan catatan apabila sistem yang diterapkan kurang mendukung. Sehingga, masa-masa kejayaan umat Islam pada masa lampau hanya akan semakin tertinggal jauh dibelakang tanpa pernah diulang. Maka, perlu adanya pembenahan kurikulum pendidikan, khususnya dalam konteks pendididikan Islam, dalam rangka menciptakan pendidikan berkualitas yang melahirkan cendekia muslim yang mampu menghadapi segala bentuk tantangan era 5.0, sehingga mampu mengintegrasikan ilmu pengetahuan duniawi dengan ilmu agama, yang mana puncaknya adalah menjadi seorang alimin yang membawa kemajuan bagi perkembangan umat Islam secara khusus, dan umat dunia secara umum. Berkaitan dengan hal tersebut, seorang tokoh filsuf yang lahir pada masa kejayaan umat Islam sejatinya telah merancang konsep pendidikan yang mendukung perkembangan seorang individu secara maksimal dari segala aspek. Tokoh tersebut dikenal secara luas dengan sebutan "Ibnu Sina". Bernama lengkap Abu Ali al'Husayn bin Abdullah bin Sina (980—1037) atau yang secara umum dikenal dengan nama Ibnu Sina atau Avicenna (bahasa Latin) adalah seorang ensiklopedis, filsuf, fisiologis, dokter, ahli matematika, astronomer dan sastrawan. Telah menguasai beberapa disiplin ilmu seperti matematika, logika, fisika, kedokteran, astronomi, hukum pada usia yang masih muda.. Bahkan dalam usia 10 tahun Ibnu Sina telah mengahafal Al-Qur'an. Merupakan seorang dokter yang sangat handal pada masanya, dan hingga kini mendapat julukan "Bapak kedokteran".
Meskipun profilnya lebih dekat pada ilmu-ilmu eksak, namun Ibnu Sina memiliki gagasan mengenai konsep pendidikan. Konsep pendidikan yang digagasnya lebih dekat pada teori pendidikan Holistik. Secara makna, holistik dapat diartikan sebagai pemikiran secara menyeluruh dan berusaha menyatukan beraneka lapisan kaidah serta pengalaman yang lebih dari sekedar mengartikan manusia secara sempit. Dari sudut pandang filosofis pendidikan holistik merupakan suatu filsafat pendidikan yang berangkat dari pemikiran bahwa pada dasarnya seorang individu dapat menemukan identitas, makna dan tujuan hidup melalui hubungannya dengan masyarakat, lingkungan, dan nilai-nilai kemanusiaan seperti kasih sayang dan perdamaian. Pendidikan Holistk menurut Rousseau dalam Noddings, “man was born free and good and could remain that way in some ideal state of nature”. Gagasan utama pemikiran tersebut adalah manusia telah diciptakan dengan baik oleh Tuhan oleh karena itu manusia harus berusaha sekuat tenaga untuk tetap seperti itu.
Meskipun Ibnu Sina tidak secara eksplisit mengungkapkan mengenai keterkaitan konsep pendidikannya dengan pendidikan holistik, namun hal ini termuat secara implisit dalam tujuan pendidikan yang dikemukakannya. Menurut Ibnu Sina tujuan pendidikan harus diarahkan pada pengembangan seluruh potensi yang dimiliki seseorang ke arah perkembangannya yang sempurna, yaitu perkembangan fisik, intelektual dan budi pekerti. Selain itu, tujuan pendidikan menurut Ibnu Sina harus diarahkan pada upaya mempersiapkan seseorang agar dapat hidup di masyarakat secara bersama dengan melakukan pekerjaan atau keahlian yang dipilihnya sesuai dengan bakat, kesiapan, kecenderugan dan potensi yang dimilikinya. Dari sini tampak bahwa Ibnu Sina memiliki pandangan tentang tujuan pendidikan yang bersifat hirarkis-struktural.
Ibnu Sina juga menggagas mengenai kurikulum pendidikan (meskipun tidak secara eksplisit). Dalam pandangannya, materi pelajaran akan membantu peserta didik untuk mengisi ruang kosong dalam dirinya dan sekaligus membantu mengembangkan potensinya tersebut. Mengenai hal tersebut, Ibnu Sina memperhatikan aspek psikologis, dimana terdapat tingkatan materi atau ilmu yang harus dipelajari sesuai tingkatan umur atau perkembangan psikologis seseorang.
Mulanya, Ibnu Sina memberikan batasan bahwa tidak boleh memulai mengajarkan Al-Qur'an kepada anak ketika belum mencapai kematangan akal dan jasmaniah, karena hal ini dapat berimplikasi pada kurang diterimanya materi Al-Quran oleh anak. Lalu, berkaitan dengan pengintegrasikan antara pengajaran Al-Qur'an dengan huruf hijaiyah adalah dengan metode campuran antara analitis dan strukturalistis dalam mengajar, membaca, dan menulis. Kemudian anak diajar agama pada waktu tingkat kematangan yang cukup sehingga ajaran dapat dapat menyerap ke dalam jiwanya dan memengaruhi daya inderawi serta perasaannya.
Lebih lanjut lagu, konsep Ibnu Sina tentang kurikulum didasarkan pada tingkat perkembangan usia peserta didik yaitu usia 3 - 5 tahun dan 6 - 14 tahun. Untuk usia 3 sampai 5 tahun, menurut Ibnu Sina perlu diberikan mata pelajaran non-teori dan lebih kepada psikomotorik dan afektif, seperti misalnya olah raga, budi pekerti, kebersihan, seni suara dan kesenian. Dalam hal ini, pelajaran olahraga bertujuan untuk membina jasmani anak sehingga organ tubuh dapat bertumbuh kembang secara maksimal. Pelajaran budi pekerti bertujuan untuk membekali anak agar memiliki etika yang baik dalam kebiasaan sehari-hari. Sedangkan pelajaran seni bertujuan untuk memperhalus perasaan serta melatih kepekaan serta daya khayal atau imajinasi. Selanjutnya kurikulum untuk anak usia 6 sampai 14 tahun mencakup pelajaran membaca, menghafal Al-Qur'an, pelajaran agama, syair, dan pelajaran olah raga. Pelajaran membaca dan menghafal Al-Qur'an berguna untuk mendukung pelaksanaan ibadah yang memerlukan bacaan ayat-ayat suci Al-Qur'an, serta untuk mendukung keberhasilan dalam mempelajari agama islam seperti pelajaran tafsir, fikih, tauhid, dan pelajaran agama lainnya yang sumber utamanya adalah Al-Qur'an. Dengan demikian, Al-Quran tetap menjadi fondasi utama dalam pembetukan identitas seseorang.
Selanjutnya, usia 14 tahun menurut Ibnu Sina adalah saat dimana siswa dibina sesuai minat dan bakatnya, tentunya dengan mempertimbangkan kesiapan serta linimasa siswa. Siswa dapat dibina untuk menentukan mata pelajaran yang diminatinya. Di antara mata pelajaran tersebut dibagi ke dalam mata pelajaran yang bersifat teoritis dan praktis. Mata pelajaran yang bersifat teoritis antara lain ilmu tentang materi dan bentuk, gerak dan perubahan, wujud dan kehancuran, tumbuh-tumbuhan, hewan, kedokteran, astrologi, dan kimia, serta ilmu tentang ruang, bayang dan gerak, memikul beban, timbangan, cermin ilmu dan memindahkan air yang secara keseluruhan tergolong ilmu matematika. Terdapat pula ilmu tentang cara turunnya wahyu, hakikat jiwa pembawa wahyu, mukjizat, berita gaib, ilham, dan ilmu tentang kekekalan ruh setelah berpisah dengan badan yang secara keseluruhan disebut ilmu ketuhanan. Mata pelajaran yang bersifat praktis adalah ilmu akhlak yang menjadi kajian mekanisme tingkah laku seseorang (psikologi), ilmu hukum, ilmu politik, dan ilmu jasmani, dan ilmu ekonomi. Dengan demikian, konsep kurikulum oleh Ibnu Sina tidak hanya sekedar mentransfer ilmu pengetahuan namun juga memperhatikan aspek kesiapan dan psikologis siswa, minat bakat siswa, serta fungsi. Selanjutnya, berkaitan dengan metode pembelajaran, terdiri atas metode talqin, demonstrasi, pembiasaan dan teladan, diskusi, magang, dan penugasan metode dera dan hukuman. Metode talqin perlu digunakan dalam mengajarkan membaca al-Qur'an, dimulai dengan cara memperdengarkan bacaan al-Qur'an kepada siswa, sebagian demi sebagian. Setelahnya siswa dapat menirukan berulang kali hingga hafal. Metode demonstrasi digunakan dalam pembelajaran yang bersifat praktis, seperti pada pelajaran menulis. Metode pembiasaan dan keteladanan menurut Ibnu Sina termasuk salah satu metode pengajaran yang paling efektif, khususnya dalam mengajarkan pelajaran yang berkaitan dengan aspek afektif, salah satunya akhlak. Cara tersebut secara umum dilakukan dengan pembiasaan dan teladan yang disesuaikan dengan perkembangan jiwa si anak, yang secara umum akan menirukan orang dewasa. Metode diskusi dapat dilakukan dengan model pembelajaran problem based learning dimana siswa akan diberikan suatu masalah yang dapat berupa pertanyaan problematis untuk dapat dibahas dan ditemukan solusinya secara bersama sama. Ibnu Sina mempergunakan metode ini untuk mengajarkan pengetahuan yang bersifat rasional dan teoretis. Metode magang dapat secara efektif digunakan untuk mengaplikasikan teori yang telah dipelajari siswa. Metode ini akan menimbulkan manfaat ganda, yaitu di samping akan mempermahir siswa dalam suatu bidang ilmu, juga akan mendatangkan keahlian dalam bekerja yang menghasilkan kesejahteraan secara ekonomis. Metode penugasan dapat diberikan untuk melatih tanggung jawab siswa serta memicu siswa untuk memperdalam pemahaman. Metode targhib dan tarhib (hadiah dan hukuman) dapat diberikan dalam rangka memberi kode kepada siswa untuk dapat mengetahui mana tindakan yang perlu dipertahankan dan mana tindakan yang tidak boleh terulang.
Dari beberapa metode yang diuraikan di atas, terlihat bahwa konsep pendidikan Ibnu Sina memberikan perhatian yang serius terhadap pendidikan. Paling tidak ada empat karakteristik metode yang ditawarkan oleh Ibn Sina, yaitu: pertama, pemilihan dan penerapan metode harus disesuaikan dengan karakteristik materi pelajaran. Kedua, metode juga diterapkan dengan mempertimbangkan psikologis peserta didik, termasuk bakat dan minat anak. Ketiga, metode yang ditawarkan tidaklah kaku, akan tetapi dapat berubah sesuai dengan kondisi dan kebutuhan peserta didik dan keempat, ketepatan dalam memilih dan menerapkan metode sangat menentukan keberhasilan pembelajaran. Jadi konsep tersebut diatas jika direlevansikan dengan tuntutan zaman hingga saat ini ada saling ketergantungan dan masih tepat untuk diterapkan. Itu artinya Ibn Sina memang memahami konsep pendidikan baik secara teoritis maupun secara praktis sehingga pemikiran yang ia kemukakan tidak hanya berlaku pada masanya, melainkan jauh melampaui masa tersebut.
Dengan konsepsi pendidikan tersebut, memungkinkan terbentuknya seorang cendekia muslim yang memiliki keterampilan dasar dalam segala aspek namun juga memiliki potensi khusus yang handal, sehingga memiliki daya jual yang mampu bersaing di tengah gempuran persaingan era society 5.0 yang semakin ketat. Selain itu, dengan menjadikan al-Qur'an sebagai fondasi ilmu pengetahuan, menjadikan seseorang mampu untuk mengintegrasikan ilmu pengetahuan duniawi dan ilmu agama. Sehingga apa yang diperoleh dapat bermuara kepada Sang Pemberi dan apa yang ditemukan dapat bermuara pada Sang Pemilik. Tercetaklah generasi Muslim yang memahami agama secara mendalam, berkompeten pada bidangnya, mampu menunjukkan eksistensi pada masyarakat, berpengetahuan, beretika, berperasaan, peka, sehat secara jasmaniah, serta mampu mengamalkan ilmu pengetahuannya.
Daftar Pustaka
Dwiyama, Fajri. “Pemasaran Pendidikan Menuju Era Revolusi Industri 5.0.” ADAARA: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol. 11, no. No. 1 (February 2021).
Handi, Ahmad Zainul. TUJUH FILSUF MUSLIM Pembuka Pintu Gerbang Filsafat Barat Modern. Yogyakarta: PT. LKiS Printing Cemerlang, 2010.
Rasyid, Idris. “Konsep Pendidikan Ibnu Sina Tentang Tujuan Pendidikan, Kurikulum, Metode Pembelajaran, Dan Guru.” EKSPOSE: Jurnal Penelitian Hukum Dan Pendidikan Vol 18, no. No. 1 (2019).
Yusuf, Muhammad. “Dikotomi Pendidikan Islam: Penyebab Dan Solusinya.” Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. 1, no. No. 1 (June 2021).
Yusuf, Muhammad. “PENDIDIKAN HOLISTIK MENURUT PARA AHLI.” Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Darud Da’wah Wal-Irsyad ( DDI, 2021.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar