Karya : Gigih Nuzuli Rahmah
Abstrak:
Esai ini bertujuan untuk menganalisis dan mendeskripsikan Nature Art (Seni Berbasis Alam) sebagai strategi pedagogi transformatif yang mengintegrasikan seni, kesadaran alam (nature awareness), dan nilai-nilai keberlanjutan (Early Childhood Education for Sustainability - ECEfS) pada konteks Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Ruang lingkup kajian mencakup tujuh domain kritis: PAUD, Kesadaran Alam, Nature-Based Learning (NBL), Nature Art, ECEfS, Estetika/Ekspresi, dan Pendekatan Pembelajaran. Metode yang digunakan adalah analisis interdisipliner dan studi literatur komprehensif dari berbagai jurnal ilmiah dan laporan kebijakan terkait pendidikan anak usia dini, pendidikan lingkungan hidup (PLH), seni rupa, dan pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan (ESD). Nature Art (seni berbasis alam) terbukti efektif sebagai media multisensori yang meningkatkan kreativitas dan keterampilan motorik halus anak secara kontekstual. Pendekatan ini secara langsung menumbuhkan kesadaran lingkungan, yang merupakan konstruksi dari pengetahuan, sikap, dan perilaku pro-lingkungan. Melalui pemanfaatan bahan alam (loose parts), Nature Art berhasil menginternalisasi prinsip keberlanjutan 5R (Refuse, Reduce, Reuse, Repurpose) dalam praktik pembelajaran yang terintegrasi STEAM.Nature Art adalah model pembelajaran yang holistik dan berkelanjutan. Dengan memadukan ekspresi estetika dan tanggung jawab ekologis, strategi ini memperkuat ikatan emosional anak terhadap alam, menjadikannya fondasi afektif yang stabil untuk membentuk karakter pro-lingkungan dan memberdayakan anak agar mampu bertindak secara bertanggung jawab demi masa depan yang lebih hijau.
Abstract:
This essay aims to analyze and describe Nature Art (Nature-Based Art) as a transformative pedagogical strategy that integrates art, nature awareness, and sustainability values (Early Childhood Education for Sustainability - ECEfS) within the context of Early Childhood Education (ECE). The scope of the study encompasses seven critical domains: ECE, Nature Awareness, Nature-Based Learning (NBL), Nature Art, ECEfS, Aesthetics/Expression, and Learning Approaches. The method employed is interdisciplinary analysis and a comprehensive literature review of various scientific journals and policy reports related to early childhood education, environmental education (EE), visual arts, and education for sustainable development (ESD). Nature Art (nature-based art) proves effective as a multisensory medium that contextually enhances children's creativity and fine motor skills. This approach directly fosters environmental awareness, which is a construct of knowledge, attitudes, and pro-environmental behaviors. Through the utilization of natural materials (loose parts), Nature Art successfully internalizes the 5R sustainability principles (Refuse, Reduce, Reuse, Repurpose) in learning practices integrated with STEAM. Nature Art is a holistic and sustainable learning model. By combining aesthetic expression and ecological responsibility, this strategy strengthens children's emotional bond with nature, making it a stable affective foundation for shaping pro-environmental character and empowering children to act responsibly for a greener future.
STAR (Situation, Task, Action, and Result)
● Situation/Situasi
Pembangunan global dan pencarian standar hidup yang tinggi seringkali mengabaikan sistem alam, yang memicu krisis keberlanjutan. Dalam konteks ini, pendidikan perlu diarahkan pada Education for Sustainable Development (ESD), yang bertujuan mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai untuk menciptakan masa depan yang berkelanjutan di seluruh dimensi lingkungan, sosial, dan ekonomi.
Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) dan ESD harus dimulai sejak dini. Penanaman eco-literacy pada anak usia dini sangat penting karena memiliki dampak besar dalam membentuk individu yang memiliki kesadaran tinggi akan pelestarian lingkungan (Utara, Retna et al., 2024).
Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) merupakan tahap fundamental yang menjadi fondasi bagi pembentukan karakter, pola pikir, dan potensi anak secara menyeluruh. 10 Perkembangan anak, yang meliputi aspek kognitif, fisik, sosial-emosional, moral, dan estetika, adalah proses perubahan dinamis yang bersifat berkelanjutan. Percepatan perkembangan pada usia dini menjadikan fase ini sangat tepat untuk menanamkan konsep etika lingkungan dan tanggung jawab moral terhadap lingkungan. Pendekatan holistik dan integratif dalam PAUD menghubungkan berbagai bidang pembelajaran, menjadikannya relevan dengan kehidupan sehari-hari anak.
● Task/Tugas
Pendekatan Nature Art dirumuskan sebagai solusi untuk menjembatani kesenjangan dalam pendidikan lingkungan pada anak usia dini. Pendekatan ini memiliki tiga tujuan strategis utama.
Nature Art berupaya pertama-tama untuk Membangun Kesadaran Alam Holistik pada anak. Kesadaran alam ini didasarkan pada tiga dimensi integral: Pengetahuan (pemahaman komprehensif tentang lingkungan dan ekosistem), Sikap (pengembangan nilai-nilai keberlanjutan dan kepedulian), dan Perilaku/Tindakan (keterlibatan aktif dan bertanggung jawab dalam upaya pelestarian).
Tujuan strategis kedua adalah Menginternalisasi Nilai Keberlanjutan (5R). Ini dicapai dengan mengganti media seni konvensional yang seringkali terbuat dari bahan buatan dengan bahan-bahan alam (dikenal sebagai loose parts). Penggunaan bahan alam ini secara praktis mengajarkan prinsip pengelolaan sumber daya berkelanjutan, yaitu Refuse, Reduce, Reuse, Repurpose, dan Recycle, yang menjadi fondasi penting bagi pengembangan kesadaran jejak ekologis (ecological footprint awareness) anak.
Terakhir, Nature Art bertujuan untuk Meningkatkan Kompetensi Pro-Lingkungan. Hal ini diwujudkan melalui pengembangan keterampilan praktis pengelolaan lingkungan, seperti melatih anak-anak untuk memilah bahan-bahan secara tepat, merawat tanaman dengan penuh tanggung jawab, serta berpartisipasi aktif dalam berbagai kegiatan pelestarian yang diselenggarakan di Satuan PAUD.
● Action/Aksi
Nature Art menerapkan prinsip Nature-Based Learning (NBL), yang menggunakan lingkungan alam sebagai sumber dan media belajar utama, bersifat fleksibel, adaptif, dan kontekstual. Pembelajaran di PAUD ditekankan berbasis bermain (learning through play), yang memfasilitasi anak untuk berpikir kritis, berkolaborasi (Limbong, 2024), dan mengembangkan kreativitas serta memecahkan masalah.
Filosofi lokal seperti "Alam Takambang Jadi Guru" (ATJG) Minangkabau diperkuat dalam implementasi NBL. ATJG mengajarkan bahwa hukum alam adalah sumber pengetahuan abadi dan mendorong individu untuk kreatif dan bersyukur, yang relevan untuk memperkuat identitas budaya dan etika lingkungan sejak dini (Emelda & Priyanti, 2025).
Guru secara aktif mendorong anak menggunakan bahan alam seperti daun, ranting, dan biji-bijian sebagai loose parts dalam kegiatan seni. Pemanfaatan bahan alam ini meningkatkan keterlibatan siswa (Aisyiah & Pamungkas, 2023) dan memberikan pengalaman yang konkret, memicu imajinasi dan kreativitas yang lebih tinggi (Permatasari et al., 2025).
Karya seni rupa adalah refleksi jujur dari pikiran, keinginan, dan perasaan anak terhadap lingkungannya. Nature Art berperan sebagai media komunikasi emosional non-verbal, yang membantu anak menyalurkan emosi positif (Permatasari et al., 2025) dan mengembangkan kepekaan serta empati mereka terhadap lingkungan (RA Al-Mau’izhoh, 2024).
Nature Art idealnya diimplementasikan melalui Project-Based Learning (PjBL) yang diintegrasikan dengan pendekatan STEAM (Science, Technology, Engineering, Art, Mathematics).
Penambahan elemen Art (A) dalam STEAM secara spesifik berfungsi sebagai alat untuk mengembangkan kreativitas anak. Proyek Nature Art, seperti membuat kolase dari bahan alam atau teknik ecoprint2 memungkinkan anak bereksperimen, berinovasi (Aisyiah & Pamungkas, 2023), dan mengembangkan keterampilan abad ke-21 (kreativitas, berpikir kritis, dan kolaborasi).
Kegiatan Nature Art adalah praktik Reuse dan Repurpose yang nyata. Dengan menggunakan limbah atau benda alam yang ditemukan (seperti daun gugur) untuk kreasi, anak secara aktif menginternalisasi bahwa nilai dapat dihasilkan tanpa konsumsi material baru, yang merupakan langkah Reduce dan Refuse yang vital dalam ECEfS.
Guru bertindak sebagai fasilitator, organisator, dan teladan yang baik. Merancang Rencana Pembelajaran (RPP) yang terstruktur, komprehensif (mencakup perencanaan, inti, dan refleksi), dan adaptif terhadap karakteristik siswa (Wijayanti et al., 2025). Keberhasilan Ekoliterasi membutuhkan kolaborasi yang harmonis antara guru, sekolah, dan orang tua (Sinulingga et al., 2025). Guru berperan sebagai mediator, memastikan pesan eco-literacy (misalnya, praktik mengurangi sampah plastik) konsisten diterapkan di rumah dan di sekolah, sehingga memperkuat nilai yang diterima anak.
● Result/Hasil
Aktivitas Nature Art berbasis outdoor learning memberikan hasil holistik seperti bermain di luar ruangan dan berinteraksi dengan media alam meningkatkan konsentrasi, merangsang kreativitas, dan melibatkan pemecahan masalah (berpikir kritis). Kegiatan seperti ecoprint dengan teknik hammering melatih motorik halus, ketelitian, dan koordinasi mata-tangan secara terpadu.
Penggunaan loose parts terbukti meningkatkan kreativitas anak, mendorong mereka menghasilkan produk yang berbeda dari yang dicontohkan, serta melibatkan mereka secara spontan dalam proses menuangkan ide (Aisyiah & Pamungkas, 2023).
Nature Art berhasil menanamkan dimensi nature awareness secara afektif dan behavioral seperti menciptakan karya seni menggunakan unsur alam menumbuhkan rasa takjub dan apresiasi estetika (Permatasari et al., 2025). Ikatan emosional (koneksi) ini menjadi landasan yang lebih kuat bagi pembentukan Green Attitude dan kepedulian lingkungan jangka panjang.
Anak-anak memperoleh keterampilan pengelolaan lingkungan yang konkret, seperti kemampuan memanfaatkan sampah bekas sebagai media belajar, serta berpartisipasi dalam kegiatan bersih-bersih dan merawat tanaman, yang merupakan inti dari perilaku berkelanjutan. Dengan terlibat dalam praktik seni yang memanfaatkan materi biologis (seperti bioart-making), anak-anak dilatih untuk melakukan identifikasi, koordinasi, refleksi, dan transformasi pada interaksi manusia dan alam, mempersiapkan mereka untuk aksi-aksi keberlanjutan yang lebih menantang.
Nature Art memfasilitasi transformasi pedagogi PAUD menuju kurikulum yang lebih bermakna dan berpusat pada anak. Keberhasilan jangka panjangnya bergantung pada penguatan kompetensi guru dalam merancang kegiatan yang adaptif, transdisipliner, dan berkelanjutan, serta sinergi yang konsisten antara lembaga pendidikan dan ekosistem keluarga (Sinulingga et al., 2025).
● Referensi
Aisyiah, N. A., & Pamungkas, J. (2023). Pemanfaatan Bahan Alam Lingkungan sebagai Media Pembelajaran Seni Rupa Anak Usia Dini. Jurnal Obsesi : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 7(6), 6741–6749. https://doi.org/10.31004/obsesi.v7i6.4606
Emelda, E., & Priyanti, N. (2025). Development of A Storybook Based on Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah (Abs-Sbk) to Strengthen the Minangkabau Philosophy Alam Takambang Jadi Guru at Paud Al-Fa’izin. Journal of Scientific Research, Education, and Technology (JSRET), 4(2), 1014–1023. https://doi.org/10.58526/jsret.v4i2.771
Limbong, C. Y. dkk. (2024). Bermain Sambil Belajar : Strategi Pembelajaran. Kiddo : Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini, 521–530. https://doi.org/10.19105/kiddo.v5i1.12740
Permatasari, S. J., Saputra, E. E., Sarah, S., & Artikel, I. (2025). Sulawesi Tenggara Educational Journal Mengembangkan Imajinasi Anak Usia Dini melalui Kegiatan Melukis dengan Media Alam. Sulawesi Tenggara Educational Journal, 5(1), 442–450. http://jurnal-unsultra.ac.id/index.php/sedujhttp://jurnal-unsultra.ac.id/index.php/seduj
RA Al-Mau’izhoh, T. P. K. (2024). Kurikulum Operasional Madrasah Raudhatul Athfal Al Mauizhoh Tahun Pelajaran 2024/2025. Dokumen Tidak Dipublikasikan, 4(2), 285–299.
Sinulingga, A. A., Syahputra, H., & Harahap, S. (2025). THE INFLUENCE OF ISLAMIC FAITH VALUES IN NAMAN VILLAGE, NAMAN TERAN DISTRICT, KARO REGENCY. Algebra : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Sains, 5(2), 218–226. https://doi.org/10.58432/algebra.v5i2.1446
Utara, Retna, A., Hapidin, H., & Dwi Utami, A. (2024). Kesadaran Lingkungan pada Anak Usia Dini. Jurnal Pelita PAUD, 9(1), 275–281. https://doi.org/10.33222/pelitapaud.v9i1.4358
Wijayanti, D. W., Rahayu, A. P. R., Fikriati, N. S. F., Hermawan, C. H., & Anista, W. A. (2025). Strategi Guru dalam Merancang Rencana Pembelajaran yang Efektif: Studi Kasus. Biologiei EducaČ›ia, 5(1), 38–48. https://doi.org/10.62734/be.v5i1.403