Senin, 22 Desember 2025

Studi Independen Kewargaan PPKn UMPO: Meneguhkan Kepemimpinan, Kebangsaan, dan Kearifan Lokal di Pulau Dewata

Karya: Muhammad Hussain Syawaludin Utama

Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) Universitas Muhammadiyah Ponorogo (UMPO) menyelenggarakan kegiatan Studi Independen Kewargaan pada 8–12 Desember 2025. Kegiatan ini diikuti oleh 52 mahasiswa semester 3 dan 5 sebagai bagian dari penguatan pembelajaran berbasis pengalaman untuk menumbuhkan wawasan kepemimpinan, kebangsaan, serta pemahaman sosial-budaya secara kontekstual.

Rangkaian kegiatan diawali dengan kunjungan akademik ke Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Bali. Pada kesempatan tersebut, dilaksanakan Seminar Nasional tentang Kepemimpinan yang menghadirkan pembicara dari dosen dan mahasiswa Undiksha serta dosen dan mahasiswa UMPO. Seminar ini menjadi forum diskusi ilmiah yang membahas tantangan kepemimpinan generasi muda dan pentingnya penguatan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kunjungan ke Undiksha menjadi salah satu bentuk kerja sama kelembagaan antara Prodi PPKn UMPO dengan Prodi PPKn Fakultas Hukum dan Ilmu Sosial Undiksha. Kerja sama ini bertujuan memperkuat jejaring akademik antarpihak, meningkatkan kualitas pembelajaran, serta membuka peluang kolaborasi dalam bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Selain dengan perguruan tinggi, kegiatan Studi Independen Kewargaan ini juga menjalin kerja sama dengan Desa Adat Tenganan, Bali. Melalui kunjungan langsung, mahasiswa memperoleh pembelajaran mengenai sistem sosial, struktur adat, serta nilai-nilai kearifan lokal yang masih dijaga secara konsisten oleh masyarakat setempat. Pengalaman ini memberikan pemahaman konkret tentang praktik kewargaan berbasis budaya lokal.

Setelah rangkaian kegiatan akademik, rombongan melanjutkan perjalanan ke kawasan Bedugul. Di lokasi ini, mahasiswa diajak merefleksikan hubungan antara manusia dan alam, sekaligus menumbuhkan kesadaran akan pentingnya pelestarian lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab warga negara dalam mendukung pembangunan berkelanjutan.

Perjalanan dilanjutkan dengan kunjungan ke Garuda Wisnu Kencana (GWK) sebagai salah satu ikon kebudayaan nasional. Kunjungan ini memberikan pemahaman simbolik mengenai identitas bangsa, persatuan, serta peran kebudayaan dalam memperkuat nilai nasionalisme dan kebhinekaan.

Kerja sama selanjutnya dilakukan melalui kunjungan ke Kantor Gubernur Bali. Dalam kegiatan ini, mahasiswa mendapatkan gambaran langsung mengenai penyelenggaraan pemerintahan daerah, mekanisme birokrasi, serta proses perumusan dan pelaksanaan kebijakan publik di tingkat provinsi. Kegiatan ini menjadi sarana pembelajaran praktis tentang demokrasi dan tata kelola pemerintahan yang baik.

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan kunjungan ke Museum Bajra Sandhi. Museum ini menyajikan dokumentasi dan diorama sejarah perjuangan rakyat Bali dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Kunjungan tersebut memperkuat pemahaman mahasiswa tentang nilai nasionalisme, patriotisme, serta pentingnya menghargai jasa para pahlawan bangsa.

Sebagai penutup, rombongan mengunjungi Pantai Melasti. Kegiatan ini menjadi momen refleksi akhir atas seluruh rangkaian Studi Independen Kewargaan. Program ini tidak hanya memberikan pengalaman akademik, tetapi juga membentuk karakter, sikap kritis, dan kesadaran mahasiswa sebagai warga negara yang berintegritas, berwawasan luas, dan berlandaskan nilai-nilai kebangsaan.

Kegiatan Studi Independen Kewargaan yang diselenggarakan oleh Prodi PPKn UMPO merupakan upaya strategis dalam mengintegrasikan pembelajaran akademik dengan pengalaman lapangan. Melalui kerja sama dengan Undiksha, Desa Adat Tenganan, dan Kantor Gubernur Bali, mahasiswa memperoleh pemahaman yang komprehensif tentang kepemimpinan, kebudayaan, pemerintahan, serta nilai-nilai kewargaan dalam praktik nyata. Program ini diharapkan mampu mencetak mahasiswa yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kebangsaan yang kuat dan berdaya saing.

Minggu, 21 Desember 2025

Rekonstektualisasi Ideologi IMM dengan Revolusi Gerakan Lingkar Ikatan sebagai Roda Motorik mencetak Kader Profetik

Karya: Guntur Swandaru

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan/masa depan) mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” QS an-Nisa ayat 9

Pengkader dan kader bisa diibaratkan seperti hubungan seorang guru dan murid dalam sebuah sekolah. Seorang Guru berperan sebagai orang yang memberikan pengajaran, dorongan, dan arahan kepada murid untuk membantu mereka tumbuh dan berkembang dalam hal pengetahuan, keterampilan, dan karakter. Sama halnya, pengkader memberikan bimbingan dan dukungan kepada kader untuk mengembangkan potensi mereka dalam konteks organisasi yang mereka jalani. Seperti seorang guru yang menginspirasi dan membimbing muridnya, pengkader juga berperan dalam membimbing dan mendukung kader untuk mencapai tujuan mereka. Dalam hal ini pengkader menjadi peranan penting didalam perkaderan dalam suatu organisasi dan harus menjadi Suri tauladan atau contoh yang baik bagi kader - kadernya untuk mengajarkan tentang kebaikan dan hal - hal lain guna mengembangkan/ memaksimalkan potensi dari setiap Kadernya. Dalam perkaderan, IMM memiliki Sistem Perkaderan Ikatan sebagai acuan atau patokan dasar dalam mengkader yang didalam nya tidak hanya melulu soal bagaimana mengkader tetapi juga ada apa yang akan di sampaikan dalam hal ini Ideologi dasar (Tri Koda & Tri Logi).

Walaupun SPI sudah ada namun bobot untuk di gunakan dalam mengkader masihlah kurang maka dari itu perlu adanya buku - buku pendukung seperti Geneologi Kaum Merah, Kelahiran yang dipersoalkan, Ilmu Amaliah Amal Ilmiah dan masih banyak lagi. Namun, ada fenomena Instruktur "Karbitan" atau dibuat matang dalam waktu singkat, layaknya buah muda yang tak butuh waktu lama untuk di jual dengan menaburkan "Karbit" agar mempercepat penuaan, atau lebih tepatnya mempercepat proses tingkat pembusukan. Dalam hal perkaderan selayaknya pengkader telah menyeselaikan Ideologisnya sebelum beranjak ke arah Instruktur (pengkader), banyak di jumpai para Instruktur (pengkader) yang ternyata masih belum memahami tentang Ideologi IMM sehingga dalam mengimplementasikannya dirasa kurang tepat dan bahkan dalam pemahaman setiap individu Instruktur (pengkader) pun berbeda/ bertentangan. Karena mereka sebelum mengikuti perkaderan lanjutan dalam hal ini Pelatihan Instruktur Dasar (PID) adalah orang - orang yang tidak di siapkan dan hanya butuh waktu satu bulan semenjak mendaftar (Setelah ada niatan untuk mengikuti Perkaderan lanjutan) barulah mereka memulai untuk membaca semua buku - buku Ideologis IMM maupun Muhammadiyah yang jumlahnya tidak sedikit, apakah mereka mampu menyelesaikannya? mungkin selesai tetapi dalam memahami suatu Konteks mereka butuh waktu yang cukup lama satu bulan saja tidak cukup.    

Hal seperti ini haruslah kita sadari dan kita renungkan bersama, tentang mau dibawa kemana (Perkaderan) IMM kedepannya yang mana pengkader yang harusnya telah selesai Ideologis dan menjadi Kader Profetik. Maka dari itu kejadian seperti haruslah kita Rekontektualisasikan Ideologis IMM, kita perlu yang Namanya Revolusi Gerakan dengan menabahkan pendidikan Khusus Ideologis. Agar supaya para kader telah selesai dalam Ideologisnya, juga menjadi pantikan atau wadah untuk menyiapan para calon - calon kader lanjutan entah itu Perkaderan PID atau bahkan Perkaderan Darul Aarqom Madya (DAM). Pendidikan Khusu (Diksus) Ideologis "Lingkar Ikatan" adalah kegiatan yang merupakan Kulturasi Perkaderan tambahan (Akademisi) seperti Majelsi Intelektual Kader (MIK), Pendidikan Politik (DikPol), Camp Book dengan Perkaderan Lanjutan seperti PID maupun DAM yang nantinya Output dari kegiatan ini adalah menciptakan garda terdepan untuk membantu peran Instruktur menyelesaikan Ideologisasi IMM agar berjalan maksimal seperti seharusnya. Bila kader telah menyelesaikan Idelogisnya maka pengkader (Instruktur - BPH) tidak ragu lagi memberikan materi lain seperti Politik dll karena mereka tidak akanmudah goyah dan selalu ingat tempat kembali yakni rumah IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH.    

Dalam melakukan kegiatan perkaderan semacam ini, perlu kita memahami terlebih dahulu beberapa Kultur yang nantinya akan di kulturasikan seperti MIK, Dikpol, Camp Book dengan sistem yang digunakan adalah bedah buku walau coraknya buku – buku Filsafat/ bedah pemikiran tokoh melalui karya – karyanya. Kemudian ada kultur perkadernan lanjutan seperti PID dan DAM yang berfokus pada peserta diarahkan untuk berfikir kritis menyikapi suatu permasalahan (Study Kasus) dengan mengedepankan keaktifan dan daya kritis serta terampil saat dihadapkan suatu penyelesaian/ permasalahan (Problem Based Learning).

Kedua kultur ini memiliki kesamaan yakni membuat pesertanya menjadi tambah wawasan serta keberanian berpendapat (Kritis) walau keduanya juga memiliki perbedaan mencolok pada pematerinya. Pada MIK, Dikpol, Camp Book peserta berperan sebagai pemateri atau pemantik untuk menyampaikan terkait gagasan para tokoh yang sebelumnya di bagikan oleh fasilitator, dan fasilitator disini berperan kontrol peserta agat tidak keluar dari jalur/ gagasan tokoh yang di sampaikan oleh peserta. Hal ini memang terkesan memaksakan peserta untuk membaca, menganalisa, hal – hal penting/ benang merah dari para tokoh yang nantinya akan di sampaikan, tetapi positifnya peserta dapat dengan mudahnya memahami suatu hal (Pemikiran tokoh) lebih cepat dan tetap sesuai dengan dasar/ buku dari para tokoh. Tetapi berbeda cerita dengan perkaderan lanjutan, PID maupun DAM yang mana pemateri bukan dari peserta atau dalam hal ini peserta mendapati informasi (Ilmu) dari pemateri yang telah disiapkan oleh penyelenggara dan kemudian ilmu tersebut dijadikan bekal untuk menyelesaikan suatu permasalahan (Study Kasus) dengan konsepan Fokus Grub Diskusi (FGD) kemudian disampaikan dan di diskusikan.

Oleh karena itu, penulis mencoba mengkulturasikan semua itu untuk me – Rekontekstualisasikan Ideologi IMM yang semakin luntur karena tidak maksimalnya perkaderan, juga untuk menyiapkan para kader melanjutkan ke perkaderan selanjutnya yakni PID maupun DAM, serta menjadi alternatif solusi untuk memaksimalkan Follow UP Darul Aarqom Dasar (DAD) karena adanya keterbatasan dari para Instruktur. Karena nantinya akan ada pantikan bagi kader yang mengikuti Diksus Ideologis "Lingkar Ikatan" untuk membaca buku – buku Ideologi IMM maupun buku – buku penguat lain di seputaran Ikatan (Muhammadiyah) lebih awal, agar nantinya bila ada perkaderan lanjutan mereka tinggal mengulang apa yang sudah/ pernah di bahas sebelumnya. Salain itu karena kegiatan ini dilakukan di bulan - bulan akhir perkaderan (Setelah 6 Bulan/ Fase kedua) tahun ke dua untuk mempersiapkan perkaderan selanjutnya.

Diksus Ideologis "Lingkar Ikatan" dilaksakan dalam beberapa hari penuh dengan bertujuan untuk membuat peserta focus dan menciptakan lingkungan literasi yang ideal (Ketenangan). Ada 3 fase yang akan diikuti oleh peserta yakni Pra (Sebelum), Saat dan Paska (Setelah) dengan pembahasan seputar Ideologisasi IMM sampai Muhammadiyah agar peserta dapat memahami intisari dari setiap bahasan tersebut. Agar kegiatan ini ada arsip yang bisa di manfaatkan/ digunakan oleh seluruh kader kembali, maka dari itu setiap kali forum di mulai ada wujud dokumentasi berupa Audio (Pordcast) yang kemudian di simpan pada pladfom Sportify agar semua dapat mengaksenya. Pada fase Pra (Sebelum) peseta akan diberi dasaran materi dalam hal ini nanti tentang “Apa itu IMM” untuk menjadi refleksi bagi peserta selama satu tahun menjadi kader. Kegiatan Pra (Sebelum) ini dilakukan kurang lebih 1 minggu sebelum hari H Diksus Ideologis "Lingkar Ikatan" dengan tujuan untuk memberikan persiapan bagi peserta maupun ceking panitia terkait kepastian peserta. Setelah mengikuti kegiatan Pra (Sebelum) maka selanjutnya akan dilanjut dengan kegiatan inti/ hari H Diksus Ideologis "Lingkar Ikatan" yang mana peserta akan dibentuk kelompok belajar dan dibagi materi – materi untuk nantinya disampaikan dan di diskusikan pada forum.

Kurikulum yang akan digunakan nanti dimulai dengan Hermeneutika agar supaya peserta memiliki bekal untuk mengkaji suatu konteks dan mudah mendapati benang merah dari setiap pembahasan. Kemudian dilanjut dengan materi Kemuhammadiyahan, mulai dari sejarah sampai Tarjih/ Hukum – hukum yang dimiliki oleh Muhammadiyah agar peserta dapat menjalankan segala hal di kehidupanya sesuai dengan Tarjih atau setidaknya mengetahui persoalan tersebut. Setelah pembahasan terkait Kemuhammadiyahan dilanjut membedah tentang KeIMM – an, mulai dari kelahiran yang di persoalkan (Sejarah), Geneologi Kaum Merah sampai IMM Autentik atau segala sesuatu yang ada hubunganya dengan IMM. Pembahasan terakhir yang akan diberikan adalah membedah SPI dari awal mula ayat – ayat perkaderan samapi profil kader IMM yang ideal, dengan nantinya setelah selesai akan diberi beberapa hal Praktis yakni simulasi agar nantinya saat peserta mengikuti perkaderan lanjutan maupun mengisi di dalam forum lebih mudah menguasai medan. Dan semua itu akan dibagi sesuai jumlah kelompok serta mempertimbangakn waktu yang ada, dengan jumlah peserta per kelompok tidak lebih dari 2 orang supaya nantinya para peserta dapat merasakan pengalaman menjadi pemantik/ pemateri hal ini juga membuat mereka belajar tentang Publik spiking juga.

Sesuai dengan apa yang dikatakan Drs. H. Mohamad Djazman Al – Kindi (Pendiri Organisasi Ikatan Mahasiswa Muhamamdiya) yang mana apabila kita memiliki ilmu haruslah di amalkan dan bila kita mengamalkan sesuatu harus dengan ilmu (Ilmu Amaliyah, Amal Ilmiah). Makadari itu setelah menyelesaikan rangkaian kegiatan tersebut selanjutnya peserta mengamalkan ilmunya atau dalam hal ini melakukan RTL (Rencan Tindak Lanjut) untuk dibagikan kepada kader – kader IMM lainya. Ada beberapa opsi yang bisa digunakan seperti membantu Instruktur untuk menyelesaikan Follow Up dengan membuat kajian tentang Ideologisasi yang nantinya akan di damping oleh Instruktur agar nanti dapat di bantu bila terjadi kendala dan tetap pada koridor yang benar. Kemudian opsi lain dengan mengikuti perkaderan lanjutan seperti PID maupun DAM yang tentunya mereka sudah siap melakukan perkaderan lanjutan, karena sesuai dengan tujuan dari kegiatan Diksus Ideologis "Lingkar Ikatan" yakni mempersiapkan Kader yang matang untuk melakukan perkaderan lanjutan (PID maupun DAM). Selain kedua opsi tersebut para alumni Diksus Ideologis "Lingkar Ikatan" akan diberdayakan untuk menjalankan diskusi – diskusi seputaran dinamika Ikatan yang kemudian didokumentasikan audionya (Podcast) dan dipublikasikan pada platfom Sportify atau yang lainya.

Kita perlu sadari apa yang disukai oleh kader sebelum memberikan suatu ilmu atau bahkan Ideologi yakni tentang adanya kader yang suka dengan berdiskusi langung, kader yang hanya suka mendengar, maupun kader yang ingin membaca tetapi tidak adanya waktu atau momen tertentu untuk membaca sesuatu. Agar semua kader mendapati hak yang sama seputar keilmuan bahkan Ideologi IMM, serta karena adanya dokumentasi audio tersebut juga membantu para Instruktur mudah dalam mengingat materi kembali. Adanya kemajuan zaman, kita IMM jangan sampai tertinggal dengan modernisasi seperti Pordcast tetapi kita manfaatkan untuk menyebarluaskan hal – hal posifit termasuk Ilmu – Ilmu seputaran IMM maupun dinamika yang sedang terjadi. Seperti yang dikatakan didalam buku Atomik Habbit “Perubahan besar bukan dimulai dari hal yang besar akan tetapi dimulai dari perubahan yang kecil dengan adanya konsistensi maka akan menjadi hal besar suatu saat nanti, Tidak ada kata tidak mungkin tetapi adanya mau di mulai kapan? Sekarang atau tidak sama sekali!” Karena kegiatan ini tidak akan menjadi sempurna di tahun pertama, tetapi dari ketidak sempurnaan itulah yang nantinya membawa Diksus Ideologis "Lingkar Ikatan" ini menjadi salah satu kegiatan yang bermanfaat bagi Ummat terutama bagi IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH nantinya. IMM Jaya – Jaya Selamanya.

 

Daftar Pustaka

Ahmad Sholeh. 2017. IMM Autentik, Melacak Autentisitas dan Substansi Gerakan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Surabaya: Pustaka Saga.

Dr. H. Haedar Nashir, M. Si. 2017. Memahami Ideologi Muhammadiyah. Jogjakarta: Penerbit Suara Muhammadiyah.

James Clear. 2018. Atomic habits. New York, New York, Avery: Penguin Random House.

Mohamad Djazman Al-Kindi. 2019. Ilmu Amaliyah Amal Ilmiah. Jogjakarta: Penerbit Suara Muhammadiyah.

MPK PP Muhammadiyah. 2016. Sistem Perkaderan Muhammadiyah. Jogjakarta: Penerbit Suara Muhammadiyah.

Muhammad Abdul Halim Sani. 2020. Manifestasi Gerakan Intelektual Profetik. Jogjakarta: Penerbit Suara Muhammadiyah.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah. 2008. Sistem Perkaderan Muhammadiyah. Jogjakarta: Penerbit Suara Muhammadiyah.

IMPLEMENTASI “NO VIRAL, NO JUSTICE” DALAM MENGATASI PENCEMARAN AIR AKIBAT LIMBAH SAMPAH DI TPST DESA MRICAN

Karya: IMMawan Guntur Swandaru

Muhammadiyah sebagai Gerakan islam yang berkemajuan hadir untuk mensyiarkan Islam sebagai “Rahmatan Lil Alamin” atau bermanfaat bagi semua aspek kehidupan. Bapak Haedar Nasir (2023) pernah mengatakan “Sampah jadi ancaman kehidupan yang merusak ekosistem, akar masalah bermula dari sikap hidup manusia” dalam pernyataan tersebut yang menjadi persoalan dari sampah yang kian menggunung tidak lain dan tidak bukan dari budaya masyarakat itu sendiri, seperti masih suka membuang sampah sembarangan atau dalam hal ini tidak di pisah sesuai dengan kategorinya. Muhammadiyah sebagai bapak sudah memberikan sikap dan solusi seperti adanya sedekah sampah, namun hal ini masih terbilang kurang efektif karena permasalahan informasi yang tidak merata. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah sebagai anak dari Muhammadiyah serta sebagai Agen of Change melihat fenomena ini sangat tergugah untuk membantu mengatasinya agar para petani dapat mendapatkan kesejahteraan seperti seharunya. Ikatan Mahasiswa Muhamamdiyah sebagai garda terdepan dalam kemahasiswaan, sesuai tujuannya mencetak akademisi Islam yang berakhlak mulia dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah yakni menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya dengan Tri Logi dan Tri Koda sebagai jati diri Kader IMM.

Sesuai dengan Tri Logi (keagamaan, kemahasiswaan, dan kemasyarakatan) dan Tri Koda (religiusitas, intelektualitas, dan humanitas) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah sendiri ingin mencetak kader – kader yang tidak hanya mahir dalam Intelektualitas atau pengetahuan dan Keagaamaan saja akan tetapi juga dapat berdampak bagi lingkunga masyarakat ataupun alam itu sendiri. Sebagai kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah yang sedari awal sudah diajarkan tentang keberdampakan manusia terhadap masyarakat dan atupun lingkungan alam sehingga munculnya rasa memiliki untuk merawat dan menjaganya agar tidak rusak. Perlu kita pahami ada konsep “Hablum Minallah dan hablum Minannas” atau hubungan kita dengan Allah dan hubungan kita dengan manusia karena kita sebagai umat muslim yang harus taat kepada perintah Allah SWT dan juga sebagai maklusk sosial maka perlu adanya hubungan dengan manusia. Namun kita suka melupakan tentang alam itu sendiri, padahal dalam kehidupan kita, alam selalu membantu untuk melakukan apapun bahkan memnuhi kebutuhan kita. Maka dari itu kita perlu memperhatikan kembali keberadaan alam dengan menambahi “Hablum Minna allam” layaknya seperti kita dengan manusia bila berbuat baik kepada sesame manusia maka kita akan kembali baik pula. Alam pun sama bila kita berdampak baik kepadanya dengan merawat dan menjaga alam akan baik kepada kita, sebaliknya bila kita jahat kepadanya maka alam akan memberikan sisi kekejamannya seperti mendatangkan musibah.

Zaman sekarang sudah sangat pesat perkembangannya sampai – sampai kita mau mencari apa saja akan mudah untuk menemukan, mau makanan jenis apa saja banyak variasinya ataupun minuman banyak beredar dimana – mana. Warga Ponorogo sendiri termsuk kedalam masyarakat konsumtif terhadap prodak seperti makanan, minuma, kebutuhan rumah dll yang mana semua hal tersebut akan menciptakan limbah sampah dengan jumlah yang cukup banyak. Kecamatan Ponorogo kota sendiri menjadi pemasok sampah yang cukup banyak setiap harinya ke tempat pembuangan sampah terpadu (TPST) yang berada di Desa Mrican. Setidaknya ada sekitar 70 ton sampah yang masuk setiap harinya dan ini angka yang cukup besar karena TPST sekarang mengalami over capacity. Pemerintahan yang di pimpin oleh bapak Sugiri Sancoko sendiri pada bulan Agustus 2023 lalu memberikan solusi untuk mendirikan pabrik produksi sampah yang diolah menjadi briket namun jumlah hasil produk ini dengan sampah yang masuk masih belum dapat mengurangi volume sampah pada TPST Ponorogo di desa Mrican.

Sungai seringkali disebut sebagai “Nadi Kehidupan” memang sangat tepat. Sungai tidak hanya menjadi sumber air bagi makhluk hidup, tetapi juga menjadi pusat peradaban manusia sejak zaman purba. Perannya dalam sektor pertanian khususnya, begitu mendasar dan kompleks tanpa adanya aliran sungai yang menggenangi persawahan, tanaman seperti padi akan susah untuk tumbuh dan ini menjadi masalah yang cukup serius terutama di Ponorogo sendiri kurang lebih sekitar 72% warganya adalah petani. Namun karena letak TPST ini sendiri bersebelahan dengan sungai dan sering terjadi sampah yang terjatuh masuk ke aliran sungai dan mencemarinya karena volume sampah yang kian banyak. Pencemaran sungai imbas sampah ini mengakibatkan gagal panen yang sangat berdampak pada para petani karena sawah menjadi penghasilan utama mereka.

Sebagai anak muda, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah memiliki kencenderungan media sosial yang cukup tinggi sehingga mengetahu konten – konten apa saja yang di minati oleh anak muda pada umunya, terlebih ada konten Viral seperti Pandawara Grub dengan sampahnya ataupun konten “No Viral, No Justice” ini memicu kami untuk membantu tujuan dari bapak kita yakni Muhammadiyah dalam mengatasi permasalahan sampah. Dengan adanya pembuatan konten tentang menjaga kebersihan, memilha sampah, adanya sedekah sampah dll secara massif dilakukan oleh kader – kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Se Ponorogo dapat di pastikan mudah nantinya konten tersebut menjadi Viral dan menjadi bahan evaluasi sendiri – sendiri atau malah mereka ikut untuk memberi dampak positif terhadap lingkungan. Dimulai dari hal kecil yang kita terapkan dan massif akan berdampak besar bagi masa depan terutama sektor sampah di Ponorogo. Bila mana hal ini dilakukan terusm menerus dan pola piker masyarakat di Ponorogo mulai kian berubah, dapat dipatikan volume sampah di TPST desa Mrisan akan mulai berkurang dan mungkin akan mendapatkan berkah lainnya seperti adanya pekerjaan baru untuk mengolah limbah sampah karena sudah mulai membudayakan filterisasi sampah sesuai kategorinya.

Persolana sampah ini yang semula negative dan berdampak buruk bagi masyarakat, terutama desa Mrican karena tidak hanya sawahnya saja yang terdampak tetapi fisik masyarakat sendiri juga terkena imas seperti mulai terkena penyakit kulit nantinya akan membaik. Seperti yang telah dibahas di awal bila kita berdampa baik kepada alam maka alam akan mendatangkan berkah kepada kita, karena limbah sampah yang sudah difilter tadi dapat bermanfaat menjadi berbagai olahan atau produk seperti hastakarya atau kriya, biogas, briket, dll yang dapat dijual untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di dalam maupun di luar Ponorogo itu sendiri. Dimulai dari hal kecil seperti pembuatan konten yang viral, menghasilkan lapangan pekerjaan dan kesadaran masyarakat itu mulai tumbuh.

Ponorogo sendiri sebagai Kota Reog dan Kota Santri nantinya akan bertambah gelar atau namanya menjadi Kota Adipura Kencana layaknya Surabaya dan kota – kota lainnya karena kebersihan dan tidak lagi muncul persoalan sampah karena sampah bukan lagi menjadi suatu masalah tetapi menjadi rahmat atau berkah bagi masyarakat kota Ponorogo sendiri. Perlu adanya juga Duta Sampah atau pelopor Ekologi sebagai garda terdepat buat kedepannya yang di mulai dari kader – kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Tanpa mereka atau kita yang memulai sadar, masyarakat akan susah dan lamban bahkan pemerintah pun nantinya juga aka lalai dan mengulang kesalahan yang sama, buat kemaslahatan Ponorogo tercinta kita juga harus memberikan yang terbaik buat semuanya, entah itu kepada Tuhan kuta Allah SWT, kepada manusia sebagai maklusk sosial ataupun kepada Alam yang kita huni ini atau bisa disebut “Hablum Minnallah, Hamblum Minnnan Nas, Hablum Minnal Alam”.

REFRENSI

Awaludin, L. (2017). Hablumminallah Hablumminannas sebagai Sumber Inspirasi Penciptaan Karya Seni Lukis (Doctoral dissertation, INSTITUT SENI INDONESIA (ISI) SURAKARTA).

Awaludin, L. (2017). Hablumminallah Hablumminannas sebagai Sumber Inspirasi Penciptaan Karya Seni Lukis (Doctoral dissertation, INSTITUT SENI INDONESIA (ISI) SURAKARTA).

Max Weber. 2006. Sosiologi/ Max Weber; Noorkholis dan Tim Penerjemah. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Mohamad Djazman Al-Kindi. 2019. Ilmu Amaliyah Amal Ilmiah. Jogjakarta: Penerbit Suara MUuhammadiyah.

Muhammadiyah Januari 2023 sampah ancaman besar bagi kehidupan 08/01/2025 21.25 https://muhammadiyah.or.id/2023/09/sampah-ancaman-besar-kehidupan/#:~:text=Pergilah%20ke%20manapun%20di%20negeri,sampah%2C%20urusan%20akan%20tetap%20bermasalah.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah. 2022. Muhammadiyah Isu-Isu Strategis Keuimatan, Kebangsaan, dan Kemanusiaan Universal. Jogjakarta: Penerbit Suara MUuhammadiyah.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah. 2022. Risalah Islam Berkemajuan. Jogjakarta: Penerbit Suara MUuhammadiyah.

Robaeah, W. N. (2023). Konsep pendidikan Profetik perspektif Kuntowijoyo dan implementasinya dalam mata pelajaran Akidah Akhlak (Doctoral dissertation, UIN Sunan Gunung Djati Bandung).

Rodin, I., Ibrahim, D., & Munir, M. (2023). Nilai Nilai Tasawuf dalam Membentuk Keshalehan Sosial dan Menangkal Radikalisme Generasi Millenial (Study di Jamiyah Thoriqoh Mu’tabaroh An-Nahdliyah Kabupaten OKU Timur). Titian Ilmu: Jurnal Ilmiah Multi Sciences, 15(1), 42-53.

DPD PDIP Jawa Timur 10 Agustus 2024 Atasi Gunungan Sampah di TPA Mrican, Pemkab Ponorogo Resmikan TPST Mrican 08/01/2025 20.35 https://pdiperjuangan-jatim.com/atasi-gunungan-sampah-di-tpa-mrican-pemkab-ponorogo-resmikan-tpst-mrican/

Penerapan Ilmu Amaliyah Amal Ilmiah Dengan Pendidikan Profetik Untuk Mengatasi Money Politic

Karya: Guntur Swandaru

Sebentar lagi Indonesia akan melaksanakan Pemilihan Umum (Pemilu) Serentak pada Februari 2024 nanti. Pemilihan yang dilakukan setiap 5 tahun sekali ini memiliki berbagai dampak, tidak cuman dampak Positif saja sebagai regenerasi kepemimpinan tetapi juga terjadinya fenomena- fenomena politik oleh oknum Caleg atau Partai seperti Money Politic. Ponorogo merupakan salah satu Kabupaten/ Kota yang tidak terlalu besar wilayahnya di Jawa Timur, tetapi berdasarkan data yang di keluarkan Banwaslu RI pada bulan Agustus 2023 lalu menunjukkan Ponorogo masuk sebagai salah satu Kabupaten/ kota yang rawan Politik Uang (Money Politic). Ini membuat saya sebagai Mahasiswa dan Warga Ponorogo tergugah/ tergerak untuk mengatasi Problematika tersebut, apalagi Jurusan yang saya ambil sangatlah dekat dengan pembahasan Politik maka berdosalah saya apa bila memiliki Ilmu tanpa diamalkan atau digunakan dalam kehidupan bermasyarakat terkusus mengatasi pemrasalahan di daerah tinggal saya yakni Kabupaten Ponorog - Jawa Timur.

Fenomena Money Politic ini menurut saya, menjadi masalah yang serius dan harus menjadi perhatian lebih oleh pemerintah maupun masyarakat Ponorogo itu sendiri karena bila Calon Legislatif (Caleg) ini mengeluarkan modal yang besar untuk mendapati posisi DPRD Kabupaten dengan pendapatan mereka per bulan bila menjabat nanti itu kecil secara logika pasti akan mencari solusi bagaimana modal tersebut kembali. Bisa dipastikan mereka akan melakukan Korupsi sebagai wujud untuk mengembalikan modal sebelumnya dan juga keuntungan pribadi agar tidak merugi. Fenomen yang terjadi ini bukan kali pertamanya di Ponorogo tetapi sudah kesekian kalinya sehingga membuat masyarakat di Ponorogo ber-Evolusi menjadi masyarakat Materialis (Uang). Berorientasi kepada Material memanglah baik bila pada sektor Ekonomi, akan tetapi akan menjadi sangat bermasalah bila hal tersebut ada pada ranah Politik Pemerintahan atau untuk mencari hak suara masyarakat pada kegiatan pemilihan seperti Pemilihan Umum (Pemilu) Serentak 2024 nanti.

Budaya Materialis pada masyarakat Ponorogo memang menjadi masalah yang Urgen saat ini karena mendekati Pemilihan Umum (Pemilu) Serentak 2024. Karena mereka memilih berdasarkan berapa Material (Uang) buka pada Visi apa yang akan di bawa atau dilakukan oleh para Calon Legislatif (Caleg) tersebut bila menduduki pemerintahan di Kabupaten Ponorogo. Banyak Calon Legislatif (Caleg) yang saya rasa kurang tepat bila menjabat sebagai anggota DPRD Kabupaten Ponorogo, tetapi karena Ia memiliki modal yang besar ini mengakibatkan banyak dukungan masyarakat terutapa pada Generasi Z (Usia 17 – 37 Tahun) yang tidak terlalu peduli terhadap Pemerintahan kedepannya. Bila Indonesia ingin maju seperti yang sudah banyak orang bahas terkait persiapan Indonesia Emas, maka perlunya Pendidikan Politik yang berorientasi untuk mengatasi permasalah-permasalahan seperti Money Politic di Indonesia secara menyeluruh pada daerah-daerahnya.

Tokoh besar Muhammadiyah dan salah satu pendiri Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Mohamad Djazman Al-Kindi sempat berpesan bawaha bila memiliki Ilmu harus di Amalkan dan segala hal yang di Amalkan harus berlandaskan Ilmu atau “Ilmu Amaliyah Amal Ilmiyah”. Maka dari itu saya sebagai Mahasiswa yang mendalami terkait Politik maupun Pemerintahan dan bila menemui problematika di masyarakat harus mengamalkan Ilmmu itu agar dapat bermanfaat bagi sekitar dalam konteks ini masyarakat.

Beberapa bulan lalu saya mendapati Isu terkait Kabupaten Ponorogo menjadi urutan ke 9 Kabupaten/ Kota rentan Money Politic diIndonesia yang di keluarkan Banwaslu RI. Sangat disayang bila hal ini terus menerus tanpa ada perubahan akan membuat Politik semakin kacau akan kepentingan yang tidak pro rakyat, karena kita tau sendiri suara masyarakat dihargai hanya sekian lembar uang saja tanpa masyarakat ketahui kualitas yang dimiliki para Caleg tersebut. Siapapun yang mencalonkan dirinya sebagai Caleg dengan modal besar dapat dipastikan mudah untuk mendapatkan suara, walau dengan keterbatasan ilmu dan pengalaman didunia Politik maupun Pemerintahan.

Fenomena seperti ini (Money Politic) haruslah segera di tindak, tidak hanya pemerintah saja melakukan OTT (Oprasi Tangkap Tangan) tetapi perlunya juga kesadaran masyarakat itu sendiri akan berbahayanya suara mereka bila didapatkan para Caleg yang tidak kopenten dan hanya mengandalkan Uang saja. Karena gaji yang mereka dapatkan tidak terlalu besar terutama di Kabupaten Ponorogo periode 2019-2024, Kisaran 28-29 Jt Perbulan bila ditotal kisaran 1,6 M selama 1 periode ini belum dengan tunjangan yang didapat selama menjabat mungkin mencapai 2,5 M keseluruhan. Hal ini sangat tidak sebanding dengan uang modal yang digunakan kisaran 3 M. Akan ada kebijakan-kebijakan baru yang tercipta untuk melancarkan aksinya untuk memperkaya diri mereka sendiri, dengan berbagai macam dalih apapun akan di gunakan untuk mengembalikan modal awal Pejabat tersebut.

Bila hal ini terus menerus dilakukan oleh oknum pejabat maka akan membuat warga masyarakat di Kabupaten Ponorogo mengalami ketimpangan sosial, bukan menyejahterakan warganya yang miskin tetapi malah membuat mereka terus menerus mengalami penderitaan. Maka dari itu perlu adanya perubahan yang dilakukan oleh para pemuda atau bis akita sebut Generasi Z (Usia 17 – 37 Tahun) dalam upaya untuk mengatasi permasalahn tersebut, karena pada Pemilihan Umum (Pemilu) serentak 2024, para Generasi Z memiliki persentase yang tinggi sekitar 50% serta masih bisa dirubah mindset (Pola Pikirnya). Dengan cara memberikan para Generasi Z edukasi tentang Pendidikan Politik, pentingnya memilih sesuai kualitas calon, dampak positif serta negative bila terjadi Money Politic, dan lain lainya yang masih diranah Politik.

Pendidikan politik yang berfokus pada pemahaman betapa berdampak buruknya Money Politic bagi keberlangsungan pemerintahan terlebihdahulu untuk para Generasi Z, dengan menekankan Pendidikan Profetik (sifat keNabian) yakni Sidiq (Jujur), Amanah (dapat dipercaya), Tablig (menyampaikan) dan Fathonah (Pandai/ Cerdas). Kenapa menggunakan hal itu dalam Pendidikan politik kali ini, karena yang ada dalam sifat kenabian (Profetik) sangat baik dan dapat di gunakan sebagai panutan atau contoh menjadi warga negara yang baik kedepannya.

Perlu kita mengkaji dan mendalami terkait apasaja yang ada dalam politik termasuk Money Politic tersebut sehingga para Generasi Z dapat mengetahu hak dan kewajibannya sebagai warga negara yang taat, hal ini sama seperti sifat Nabi yaitu Fathonah berarti orang yang pandai atau cerdas dan menjadikan mereka isa lebih Amanah atau dipercaya. Selain itu bila para Generasi Z dapat memahami terkait Pendidikan Politik perlu melengkapi hal lain untuk membentuk karakter Masyarakat seperti Agama, agar apa yang dilakukan menjadikannya menjadi warga negara yang Jujur, seperti sifat Nabi yakni Sidiq dan puncaknya akan dapat menjadi orang menyampaikan sesuai apa adanya sepertihalnya sifat Tablig.

Kegiatan ini akan di awali kepada beberapa orang di Generasi Z untuk dibina dan rencananya bila mereka sudah mampu untuk menyebarkan ilmu tersebut ke daerahnya masing-masing. Dari apa yang dilakukan tadi mereka akan membuat suatu perkumpulan atau komunitas yang ada di Desanya sebagai wujud Pendidikan Politik tadi, walau berawal sedikit orang tetapi lambat laun akan menjadi suatu perkumpulan yang lebih besar lagi. Bila hal ini terus dilakukan maka, akan semakin banyak warga negar yang memahami dan hal ini berdampak pada menuru angka penyelewengan kekuasaan karena oknum pejabat yang hanya mementingkan kepentingan dirinya tanpa memperdulikan warga masyarakat. Tak cumin Pendidikan Politik yang berupaya dalam menyikapi problematika politik seperti Money Politic juga dapat diajarkan berbagai hal terkait kebutuhan pemerintah seperti Panitia Pengungutan Suara dan lain sebagainya.

Kita perlu menyadari pentingnya peran pemuda lama melakukan kegiatan tersebut walau faktanya kegiatan-kegiatan seperti itu masih banyak dilakukan oleh kalangan orang tua (Usia 34 Tahun) dengan alasan lebih berpengalam. Bukan perihal pengalaman atau tidaknya tetapi mereka berfokus pada nominal uang yang didapat bila melakukan kegiatan tersebut dengan keterbatasan dan akal-akalan semata. Kita sebagai para pemuda atau Generasi Z perlu mendekati dan memasuki tempat-tempat tersebut untuk melakukan regenerasi serta memaksimalkan demokrasi yang ada bukan hanya sekedar Demokrasi Semu atau akal-akalan para orang tua terkait data.  

Apa yang saya sampaikan tadi memang sangat sulit dilakukan karena, dapat dipastikan akan ada penyerangan oleh oknum Caleg kepada mereka yang mempelajari Pendidikan politik tersebut agar masyarakat tetap pada pemahaman yang terbatas untuk di bodohi oleh Janji-Janji dan uang mereka dalam upaya mendapatkan suara untuk menjabat di Pemerintahan. Tetapi ini bukan sesuatu yang mustahil untuk dilakukan, ibaratnya kita melakukan peningkatan walau sekecil apapun itu setiap harinya akan berdampak besar dalam jangka Panjang. Perubahan 0,1% yang kita lakukan untuk berkembang setiap harinya selama satu tahun akan menjadi 36,5% di tahun pertama dan akan meningkat seiring berjalannya waktu. Dan apa bila kita hitung kembali peningkatan itu yang telah menjadi habits selama 5 Tahun akan menjadi 182,5%, hamper mencapai 2x lipat dari apa yang kita perbuat sebelumnya.

Dalam memulai kegiatan tersebut memang sangat sulit di awal banyak sekali kegagalan bahkan serangan tetapi “Lebih baik mencoba dan Gagal, dari pada tidak mencoba sama sekali” dan kita perlu mengingat apa yang sudah diniati aka nada jalannya “Iinna a'malu binniyat”, niat baik akan mendatangkan kebaikan dan begitu pula sebaliknya. Bila demikian kita niati Bersama dan juga melakukannya problematika Politik seperti halnya Money Politic ini akan bisa kita atasi, apalagi Generasi Z punya banyak sekali waktu melakukan periubahan-perubahan itu juga untuk menciptakan Generasi bangsa yang mumpuni dalam menyiapkan Indonesia Emas 2045 nanti.

Pemilihan Umum (Pemilu) serentak 2024 memang menjadi pintu gerbang utama untuk menduduki kursi-kursi pemerintahan. Sering terjadi penyalah gunaan kekuasaan dikarenakan oknum pejabat yang tidak kopenten dengan mengandalkan modal besar dan membeli suara dari rakyat atau dikatakan Money Politic. Peran Generasi Z (Usia 17-34 Tahun) memang sangat tepat untuk melakukan perubahan Minset denganPendidikan Politik karena waktu mereka masih Panjang dan masih muda. Pendidikan yang dilakukan dengan pemahaman yang terciptak diharapkan dapat diImplementasikan kepada masyarakat atau “Ilmu Amaliyah, Amal Ilmiyah”, serta menerapkan Pendidikan Profetik (Sifat keNabian) seperti Komunitas di Desa. Dengan memulai dari hal yang kecil dengan konsisten peningkatan setiap harinya akan berdampak besar ditaun-tahun selanjutnya, tidak ada hal yang Instan dan tidak ada juga hal yang mustahil semua tergantung dari Niatnya “Inna a'malu binniyat”.

 

Daftar Pustaka

Azimi, S. (2023). KOMPETENSI PROFESI GURU: Bertanggung jawab Untuk Memotivasi Siswa/i Dalam Pembelajaran.

Bawaslu Ponorogo, 21 Oktober 2020, Marji Nurcahyono: Politik Ingkari Kualitas Paslon, 22/11/23 22.40 https://ponorogo.bawaslu.go.id/2020/10/21/marji-nurcahyono-politik-uang-ingkari-kualitas-paslon/

Bawaslu Ponorogo, 31 Agustus 2023, Ponorogo Masuk Zona Rawan Politik Uang, ini Imbauan Bawaslu Jelasng Pemilu 2024, 22/11/23 22.37 https://ponorogo.bawaslu.go.id/2023/08/31/ponorogo-masuk-zona-rawan-politik-uang-ini-imbauan-bawaslu-jelang-pemilu-2024/

James Clear. 2018. Atomic habits. New York, New York, Avery: Penguin Random House.

Max Weber. 2006. Sosiologi/ Max Weber; Noorkholis dan Tim Penerjemah. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Mohamad Djazman Al-Kindi. 2019. Ilmu Amaliyah Amal Ilmiah. Jogjakarta: Penerbit Suara MUuhammadiyah.

Morgan Housel. 2021. The Psychology of Money. Tangerang Selatan: PT. Bentara AKsara Cahaya.

Padilah, K., & Irwansyah, I. (2023). Solusi terhadap money politik pemilu serentak tahun 2024: mengidentifikasi tantangan dan strategi penanggulangannya.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah. 2022. Muhammadiyah Isu-Isu Strategis Keuimatan, Kebangsaan, dan Kemanusiaan Universal. Jogjakarta: Penerbit Suara MUuhammadiyah.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah. 2022. Risalah Islam Berkemajuan. Jogjakarta: Penerbit Suara MUuhammadiyah.

Ramlan Subakti. 2005. Memahami Ilmu Politik. Jakarta: PT Grasindo Aggota Ikapi.

Robaeah, W. N. (2023). Konsep pendidikan Profetik perspektif Kuntowijoyo dan implementasinya dalam mata pelajaran Akidah Akhlak (Doctoral dissertation, UIN Sunan Gunung Djati Bandung).

Rodin, I., Ibrahim, D., & Munir, M. (2023). Nilai Nilai Tasawuf dalam Membentuk Keshalehan Sosial dan Menangkal Radikalisme Generasi Millenial (Study di Jamiyah Thoriqoh Mu’tabaroh An-Nahdliyah Kabupaten OKU Timur). Titian Ilmu: Jurnal Ilmiah Multi Sciences, 15(1), 42-53.

Sholeh, M. I. (2023). PENGUATAN SPIRITUALITAS DAN KEMANUSIAAN DALAM IMPLEMENTASI PENDIDIKAN PROFETIK DI PERGURUAN TINGGI ISLAM: Studi Kasus di UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung. Jurnal Tinta: Jurnal Ilmu Keguruan dan Pendidikan, 5(2), 146-158.

Senin, 15 Desember 2025

MENGGUGAH KESADARAN ALAM PADA ANAK USIA DINI MELALUI NATURE ART

Karya : Gigih Nuzuli Rahmah

Abstrak:

Esai ini bertujuan untuk menganalisis dan mendeskripsikan Nature Art (Seni Berbasis Alam) sebagai strategi pedagogi transformatif yang mengintegrasikan seni, kesadaran alam (nature awareness), dan nilai-nilai keberlanjutan (Early Childhood Education for Sustainability - ECEfS) pada konteks Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Ruang lingkup kajian mencakup tujuh domain kritis: PAUD, Kesadaran Alam, Nature-Based Learning (NBL), Nature Art, ECEfS, Estetika/Ekspresi, dan Pendekatan Pembelajaran. Metode yang digunakan adalah analisis interdisipliner dan studi literatur komprehensif dari berbagai jurnal ilmiah dan laporan kebijakan terkait pendidikan anak usia dini, pendidikan lingkungan hidup (PLH), seni rupa, dan pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan (ESD). Nature Art (seni berbasis alam) terbukti efektif sebagai media multisensori yang meningkatkan kreativitas dan keterampilan motorik halus anak secara kontekstual. Pendekatan ini secara langsung menumbuhkan kesadaran lingkungan, yang merupakan konstruksi dari pengetahuan, sikap, dan perilaku pro-lingkungan. Melalui pemanfaatan bahan alam (loose parts), Nature Art berhasil menginternalisasi prinsip keberlanjutan 5R (Refuse, Reduce, Reuse, Repurpose) dalam praktik pembelajaran yang terintegrasi STEAM.Nature Art adalah model pembelajaran yang holistik dan berkelanjutan. Dengan memadukan ekspresi estetika dan tanggung jawab ekologis, strategi ini memperkuat ikatan emosional anak terhadap alam, menjadikannya fondasi afektif yang stabil untuk membentuk karakter pro-lingkungan dan memberdayakan anak agar mampu bertindak secara bertanggung jawab demi masa depan yang lebih hijau.

 

Abstract:

This essay aims to analyze and describe Nature Art (Nature-Based Art) as a transformative pedagogical strategy that integrates art, nature awareness, and sustainability values (Early Childhood Education for Sustainability - ECEfS) within the context of Early Childhood Education (ECE). The scope of the study encompasses seven critical domains: ECE, Nature Awareness, Nature-Based Learning (NBL), Nature Art, ECEfS, Aesthetics/Expression, and Learning Approaches. The method employed is interdisciplinary analysis and a comprehensive literature review of various scientific journals and policy reports related to early childhood education, environmental education (EE), visual arts, and education for sustainable development (ESD). Nature Art (nature-based art) proves effective as a multisensory medium that contextually enhances children's creativity and fine motor skills. This approach directly fosters environmental awareness, which is a construct of knowledge, attitudes, and pro-environmental behaviors. Through the utilization of natural materials (loose parts), Nature Art successfully internalizes the 5R sustainability principles (Refuse, Reduce, Reuse, Repurpose) in learning practices integrated with STEAM. Nature Art is a holistic and sustainable learning model. By combining aesthetic expression and ecological responsibility, this strategy strengthens children's emotional bond with nature, making it a stable affective foundation for shaping pro-environmental character and empowering children to act responsibly for a greener future.

 

STAR (Situation, Task, Action, and Result)

 

● Situation/Situasi

Pembangunan global dan pencarian standar hidup yang tinggi seringkali mengabaikan sistem alam, yang memicu krisis keberlanjutan. Dalam konteks ini, pendidikan perlu diarahkan pada Education for Sustainable Development (ESD), yang bertujuan mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai untuk menciptakan masa depan yang berkelanjutan di seluruh dimensi lingkungan, sosial, dan ekonomi.

Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) dan ESD harus dimulai sejak dini. Penanaman eco-literacy pada anak usia dini sangat penting karena memiliki dampak besar dalam membentuk individu yang memiliki kesadaran tinggi akan pelestarian lingkungan (Utara, Retna et al., 2024).

Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) merupakan tahap fundamental yang menjadi fondasi bagi pembentukan karakter, pola pikir, dan potensi anak secara menyeluruh. 10 Perkembangan anak, yang meliputi aspek kognitif, fisik, sosial-emosional, moral, dan estetika, adalah proses perubahan dinamis yang bersifat berkelanjutan. Percepatan perkembangan pada usia dini menjadikan fase ini sangat tepat untuk menanamkan konsep etika lingkungan dan tanggung jawab moral terhadap lingkungan. Pendekatan holistik dan integratif dalam PAUD menghubungkan berbagai bidang pembelajaran, menjadikannya relevan dengan kehidupan sehari-hari anak.

 

● Task/Tugas

Pendekatan Nature Art dirumuskan sebagai solusi untuk menjembatani kesenjangan dalam pendidikan lingkungan pada anak usia dini. Pendekatan ini memiliki tiga tujuan strategis utama.

Nature Art berupaya pertama-tama untuk Membangun Kesadaran Alam Holistik pada anak. Kesadaran alam ini didasarkan pada tiga dimensi integral: Pengetahuan (pemahaman komprehensif tentang lingkungan dan ekosistem), Sikap (pengembangan nilai-nilai keberlanjutan dan kepedulian), dan Perilaku/Tindakan (keterlibatan aktif dan bertanggung jawab dalam upaya pelestarian).

Tujuan strategis kedua adalah Menginternalisasi Nilai Keberlanjutan (5R). Ini dicapai dengan mengganti media seni konvensional yang seringkali terbuat dari bahan buatan dengan bahan-bahan alam (dikenal sebagai loose parts). Penggunaan bahan alam ini secara praktis mengajarkan prinsip pengelolaan sumber daya berkelanjutan, yaitu Refuse, Reduce, Reuse, Repurpose, dan Recycle, yang menjadi fondasi penting bagi pengembangan kesadaran jejak ekologis (ecological footprint awareness) anak.

Terakhir, Nature Art bertujuan untuk Meningkatkan Kompetensi Pro-Lingkungan. Hal ini diwujudkan melalui pengembangan keterampilan praktis pengelolaan lingkungan, seperti melatih anak-anak untuk memilah bahan-bahan secara tepat, merawat tanaman dengan penuh tanggung jawab, serta berpartisipasi aktif dalam berbagai kegiatan pelestarian yang diselenggarakan di Satuan PAUD.

 

● Action/Aksi

Nature Art menerapkan prinsip Nature-Based Learning (NBL), yang menggunakan lingkungan alam sebagai sumber dan media belajar utama, bersifat fleksibel, adaptif, dan kontekstual. Pembelajaran di PAUD ditekankan berbasis bermain (learning through play), yang memfasilitasi anak untuk berpikir kritis, berkolaborasi (Limbong, 2024), dan mengembangkan kreativitas serta memecahkan masalah.

Filosofi lokal seperti "Alam Takambang Jadi Guru" (ATJG) Minangkabau diperkuat dalam implementasi NBL. ATJG mengajarkan bahwa hukum alam adalah sumber pengetahuan abadi dan mendorong individu untuk kreatif dan bersyukur, yang relevan untuk memperkuat identitas budaya dan etika lingkungan sejak dini (Emelda & Priyanti, 2025).

Guru secara aktif mendorong anak menggunakan bahan alam seperti daun, ranting, dan biji-bijian sebagai loose parts dalam kegiatan seni. Pemanfaatan bahan alam ini meningkatkan keterlibatan siswa (Aisyiah & Pamungkas, 2023) dan memberikan pengalaman yang konkret, memicu imajinasi dan kreativitas yang lebih tinggi (Permatasari et al., 2025).

Karya seni rupa adalah refleksi jujur dari pikiran, keinginan, dan perasaan anak terhadap lingkungannya. Nature Art berperan sebagai media komunikasi emosional non-verbal, yang membantu anak menyalurkan emosi positif (Permatasari et al., 2025) dan mengembangkan kepekaan serta empati mereka terhadap lingkungan (RA Al-Mau’izhoh, 2024).

Nature Art idealnya diimplementasikan melalui Project-Based Learning (PjBL) yang diintegrasikan dengan pendekatan STEAM (Science, Technology, Engineering, Art, Mathematics).

Penambahan elemen Art (A) dalam STEAM secara spesifik berfungsi sebagai alat untuk mengembangkan kreativitas anak. Proyek Nature Art, seperti membuat kolase dari bahan alam atau teknik ecoprint2 memungkinkan anak bereksperimen, berinovasi (Aisyiah & Pamungkas, 2023), dan mengembangkan keterampilan abad ke-21 (kreativitas, berpikir kritis, dan kolaborasi).

Kegiatan Nature Art adalah praktik Reuse dan Repurpose yang nyata. Dengan menggunakan limbah atau benda alam yang ditemukan (seperti daun gugur) untuk kreasi, anak secara aktif menginternalisasi bahwa nilai dapat dihasilkan tanpa konsumsi material baru, yang merupakan langkah Reduce dan Refuse yang vital dalam ECEfS.

Guru bertindak sebagai fasilitator, organisator, dan teladan yang baik. Merancang Rencana Pembelajaran (RPP) yang terstruktur, komprehensif (mencakup perencanaan, inti, dan refleksi), dan adaptif terhadap karakteristik siswa (Wijayanti et al., 2025). Keberhasilan Ekoliterasi membutuhkan kolaborasi yang harmonis antara guru, sekolah, dan orang tua (Sinulingga et al., 2025). Guru berperan sebagai mediator, memastikan pesan eco-literacy (misalnya, praktik mengurangi sampah plastik) konsisten diterapkan di rumah dan di sekolah, sehingga memperkuat nilai yang diterima anak.

 

● Result/Hasil

Aktivitas Nature Art berbasis outdoor learning memberikan hasil holistik seperti bermain di luar ruangan dan berinteraksi dengan media alam meningkatkan konsentrasi, merangsang kreativitas, dan melibatkan pemecahan masalah (berpikir kritis). Kegiatan seperti ecoprint dengan teknik hammering melatih motorik halus, ketelitian, dan koordinasi mata-tangan secara terpadu.

Penggunaan loose parts terbukti meningkatkan kreativitas anak, mendorong mereka menghasilkan produk yang berbeda dari yang dicontohkan, serta melibatkan mereka secara spontan dalam proses menuangkan ide (Aisyiah & Pamungkas, 2023).

Nature Art berhasil menanamkan dimensi nature awareness secara afektif dan behavioral seperti menciptakan karya seni menggunakan unsur alam menumbuhkan rasa takjub dan apresiasi estetika (Permatasari et al., 2025). Ikatan emosional (koneksi) ini menjadi landasan yang lebih kuat bagi pembentukan Green Attitude dan kepedulian lingkungan jangka panjang.

Anak-anak memperoleh keterampilan pengelolaan lingkungan yang konkret, seperti kemampuan memanfaatkan sampah bekas sebagai media belajar, serta berpartisipasi dalam kegiatan bersih-bersih dan merawat tanaman, yang merupakan inti dari perilaku berkelanjutan. Dengan terlibat dalam praktik seni yang memanfaatkan materi biologis (seperti bioart-making), anak-anak dilatih untuk melakukan identifikasi, koordinasi, refleksi, dan transformasi pada interaksi manusia dan alam, mempersiapkan mereka untuk aksi-aksi keberlanjutan yang lebih menantang.

Nature Art memfasilitasi transformasi pedagogi PAUD menuju kurikulum yang lebih bermakna dan berpusat pada anak. Keberhasilan jangka panjangnya bergantung pada penguatan kompetensi guru dalam merancang kegiatan yang adaptif, transdisipliner, dan berkelanjutan, serta sinergi yang konsisten antara lembaga pendidikan dan ekosistem keluarga (Sinulingga et al., 2025).

 

● Referensi

Aisyiah, N. A., & Pamungkas, J. (2023). Pemanfaatan Bahan Alam Lingkungan sebagai Media Pembelajaran Seni Rupa Anak Usia Dini. Jurnal Obsesi : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 7(6), 6741–6749. https://doi.org/10.31004/obsesi.v7i6.4606

Emelda, E., & Priyanti, N. (2025). Development of A Storybook Based on Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah (Abs-Sbk) to Strengthen the Minangkabau Philosophy Alam Takambang Jadi Guru at Paud Al-Fa’izin. Journal of Scientific Research, Education, and Technology (JSRET), 4(2), 1014–1023. https://doi.org/10.58526/jsret.v4i2.771

Limbong, C. Y. dkk. (2024). Bermain Sambil Belajar : Strategi Pembelajaran. Kiddo : Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini, 521–530. https://doi.org/10.19105/kiddo.v5i1.12740

Permatasari, S. J., Saputra, E. E., Sarah, S., & Artikel, I. (2025). Sulawesi Tenggara Educational Journal Mengembangkan Imajinasi Anak Usia Dini melalui Kegiatan Melukis dengan Media Alam. Sulawesi Tenggara Educational Journal, 5(1), 442–450. http://jurnal-unsultra.ac.id/index.php/sedujhttp://jurnal-unsultra.ac.id/index.php/seduj

RA Al-Mau’izhoh, T. P. K. (2024). Kurikulum Operasional Madrasah Raudhatul Athfal Al Mauizhoh Tahun Pelajaran 2024/2025. Dokumen Tidak Dipublikasikan, 4(2), 285–299.

Sinulingga, A. A., Syahputra, H., & Harahap, S. (2025). THE INFLUENCE OF ISLAMIC FAITH VALUES IN NAMAN VILLAGE, NAMAN TERAN DISTRICT, KARO REGENCY. Algebra : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Sains, 5(2), 218–226. https://doi.org/10.58432/algebra.v5i2.1446

Utara, Retna, A., Hapidin, H., & Dwi Utami, A. (2024). Kesadaran Lingkungan pada Anak Usia Dini. Jurnal Pelita PAUD, 9(1), 275–281. https://doi.org/10.33222/pelitapaud.v9i1.4358

Wijayanti, D. W., Rahayu, A. P. R., Fikriati, N. S. F., Hermawan, C. H., & Anista, W. A. (2025). Strategi Guru dalam Merancang Rencana Pembelajaran yang Efektif: Studi Kasus. Biologiei EducaČ›ia, 5(1), 38–48. https://doi.org/10.62734/be.v5i1.403

Relevansi Konsep Pendidikan Holistik Ibnu Sina di Abad 21: Upaya Mencetak Generasi Muslim Yang Berkemajuan

Karya : Hira Fawnia 

Saat ini, dunia tengah menghadapi era "revolusi industri 4.0" yang ditandai dengan pesatnya perkembangan teknologi digital yang dinamis. Namun, pada awal 2019 seorang perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe memperkenalkan konsep baru yang menarik perhatian dunia. Dalam Word Economic Forum di Davos Swiss, Shinzo Abe menyampaikan gagasan tentang "Society 5.0", atau dapat dikenal sebagai revolusi industri 5.0. Berbeda dengan era 4.0 yang lebih berpusat pada teknologi digital serta artificial intelligent, era 5.0 lebih berpusat pada manusia itu sendiri untuk dapat memaksimalkan sumber daya manusia dalam rangka pemanfaatan teknologi yang ada. Era society 5.0 ditandai dengan adanya pandangan tentang bagaimana manusia dan mesin bekerja sama dalam peningkatan sarana dan efisiensi suatu pekerjaan.

Pesatnya perkembangan zaman yang ditandai dengan perkembangan teknologi, sumber daya manusia dan aspek-aspek lain, tentu memunculkan tantangan baru yang harus dihadapi generasi kini. Salah satunya adalah dalam dunia pendidikan. Apabila ditinjau dari segi perkembangan ilmu pengetahuan, tentu di era 5.0 ini dunia pendidikan berkembang jauh lebih baik dibanding era sebelumnya. Ada banyak faktor yang mempengaruhi hal tersebut, diantaranya adalah berkembangnya AI, kemudian mudahnya akses terhadap informasi dan sumber belajar, dan lain-lain. Namun, apabila ditinjau dari sudut pandang pendidikan Islam, sesungguhnya yang terjadi adalah sebaliknya. Ditengah pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan, sejatinya yang terjadi adalah degradasi pendidikan. Fenomena saat ini yang marak terjadi adalah orang-orang yang mengutamakan pendidikan umum cenderung tidak mengutamakan pendidikan agama, dan hal ini berlaku sebaliknya. Selanjutnya fenomena ini dikenal dengan sebutan "dikotomi pendidikan".

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, dikotomi dapat diartikan sebagai pembagian di dua kelompok yang saling bertentangan. Adapun secara istilah, dikotomi dapat dipahami sebagai suatu pemisahan antara ilmu umum dan ilmu agama. Fenomena ini turut menghadirkan masalah krusial berikutnya dalam sudut pandang pendidikan Islam, yakni tidak terpatrinya pandangan orang moderen dan hasil temuannya dengan Maha Penciptanya. Problem adanya dikotomi antara ilmu umum dan ilmu agama mengakibatkan tidak berkembangnya ilmu pengetahuan dan terjadinya krisis metodologi keilmuan. Krisis yang terjadi dalam dunia pengetahuan dan pendidikan Islam saat ini mengakibatkan tradisi keilmuan menjadi statis, sehingga pendidikan Islam belum menunjukkan perannya secara maksimal dalam menciptakan peradaban yang maju, seperti masa kejayaan Islam pada abad 8-13 M silam.

Kondisi pendidikan saat ini tentu tidak dapat sepenuhnya dibandingkan dengan era tersebut. Tantangan yang dihadapi pun sudah berbeda. Berkaitan dengan era 5.0 yang bertabur AI dan segala bentuk kecanggihan teknologi, menjadikan masalah yang dihadapi semakin kompleks. Generasi kini mengalami banyak tuntutan dari berbagai sisi, yang memungkinkan tidak maksimalnya perkembangan potensi seseorang akibat terlalu banyak hal yang mesti dikuasai. Setidaknya, dalam era society 5.0, seseorang dituntut untuk memiliki kemampuan berikut :
1. Keterampilan Digital
2. Pemahaman teknologi dan inovasi
3. Pendidikan yang relevan
4. Sikap adaptif
5. Mental yang siap
6. Komunikasi, kolaborasi, dan berpikir kritis.

Dengan semakin kompleksnya tantangan yang dihadapi generasi pada abad 21 ini, tidak menutup kemungkinan terjadinya degradasi pendidikan, dengan catatan apabila sistem yang diterapkan kurang mendukung. Sehingga, masa-masa kejayaan umat Islam pada masa lampau hanya akan semakin tertinggal jauh dibelakang tanpa pernah diulang. Maka, perlu adanya pembenahan kurikulum pendidikan, khususnya dalam konteks pendididikan Islam, dalam rangka menciptakan pendidikan berkualitas yang melahirkan cendekia muslim yang mampu menghadapi segala bentuk tantangan era 5.0, sehingga mampu mengintegrasikan ilmu pengetahuan duniawi dengan ilmu agama, yang mana puncaknya adalah menjadi seorang alimin yang membawa kemajuan bagi perkembangan umat Islam secara khusus, dan umat dunia secara umum. Berkaitan dengan hal tersebut, seorang tokoh filsuf yang lahir pada masa kejayaan umat Islam sejatinya telah merancang konsep pendidikan yang mendukung perkembangan seorang individu secara maksimal dari segala aspek. Tokoh tersebut dikenal secara luas dengan sebutan "Ibnu Sina". Bernama lengkap Abu Ali al'Husayn bin Abdullah bin Sina (980—1037) atau yang secara umum dikenal dengan nama Ibnu Sina atau Avicenna (bahasa Latin) adalah seorang ensiklopedis, filsuf, fisiologis, dokter, ahli matematika, astronomer dan sastrawan. Telah menguasai beberapa disiplin ilmu seperti matematika, logika, fisika, kedokteran, astronomi, hukum pada usia yang masih muda.. Bahkan dalam usia 10 tahun Ibnu Sina telah mengahafal Al-Qur'an. Merupakan seorang dokter yang sangat handal pada masanya, dan hingga kini mendapat julukan "Bapak kedokteran".

Meskipun profilnya lebih dekat pada ilmu-ilmu eksak, namun Ibnu Sina memiliki gagasan mengenai konsep pendidikan. Konsep pendidikan yang digagasnya lebih dekat pada teori pendidikan Holistik. Secara makna, holistik dapat diartikan sebagai pemikiran secara menyeluruh dan berusaha menyatukan beraneka lapisan kaidah serta pengalaman yang lebih dari sekedar mengartikan manusia secara sempit. Dari sudut pandang filosofis pendidikan holistik merupakan suatu filsafat pendidikan yang berangkat dari pemikiran bahwa pada dasarnya seorang individu dapat menemukan identitas, makna dan tujuan hidup melalui hubungannya dengan masyarakat, lingkungan, dan nilai-nilai kemanusiaan seperti kasih sayang dan perdamaian. Pendidikan Holistk menurut Rousseau dalam Noddings, “man was born free and good and could remain that way in some ideal state of nature”. Gagasan utama pemikiran tersebut adalah manusia telah diciptakan dengan baik oleh Tuhan oleh karena itu manusia harus berusaha sekuat tenaga untuk tetap seperti itu.

Meskipun Ibnu Sina tidak secara eksplisit mengungkapkan mengenai keterkaitan konsep pendidikannya dengan pendidikan holistik, namun hal ini termuat secara implisit dalam tujuan pendidikan yang dikemukakannya. Menurut Ibnu Sina tujuan pendidikan harus diarahkan pada pengembangan seluruh potensi yang dimiliki seseorang ke arah perkembangannya yang sempurna, yaitu perkembangan fisik, intelektual dan budi pekerti. Selain itu, tujuan pendidikan menurut Ibnu Sina harus diarahkan pada upaya mempersiapkan seseorang agar dapat hidup di masyarakat secara bersama dengan melakukan pekerjaan atau keahlian yang dipilihnya sesuai dengan bakat, kesiapan, kecenderugan dan potensi yang dimilikinya. Dari sini tampak bahwa Ibnu Sina memiliki pandangan tentang tujuan pendidikan yang bersifat hirarkis-struktural.

Ibnu Sina juga menggagas mengenai kurikulum pendidikan (meskipun tidak secara eksplisit). Dalam pandangannya, materi pelajaran akan membantu peserta didik untuk mengisi ruang kosong dalam dirinya dan sekaligus membantu mengembangkan potensinya tersebut. Mengenai hal tersebut, Ibnu Sina memperhatikan aspek psikologis, dimana terdapat tingkatan materi atau ilmu yang harus dipelajari sesuai tingkatan umur atau perkembangan psikologis seseorang.

Mulanya, Ibnu Sina memberikan batasan bahwa tidak boleh memulai mengajarkan Al-Qur'an kepada anak ketika belum mencapai kematangan akal dan jasmaniah, karena hal ini dapat berimplikasi pada kurang diterimanya materi Al-Quran oleh anak. Lalu, berkaitan dengan pengintegrasikan antara pengajaran Al-Qur'an dengan huruf hijaiyah adalah dengan metode campuran antara analitis dan strukturalistis dalam mengajar, membaca, dan menulis. Kemudian anak diajar agama pada waktu tingkat kematangan yang cukup sehingga ajaran dapat dapat menyerap ke dalam jiwanya dan memengaruhi daya inderawi serta perasaannya.

Lebih lanjut lagu, konsep Ibnu Sina tentang kurikulum didasarkan pada tingkat perkembangan usia peserta didik yaitu usia 3 - 5 tahun dan 6 - 14 tahun. Untuk usia 3 sampai 5 tahun, menurut Ibnu Sina perlu diberikan mata pelajaran non-teori dan lebih kepada psikomotorik dan afektif, seperti misalnya olah raga, budi pekerti, kebersihan, seni suara dan kesenian. Dalam hal ini, pelajaran olahraga bertujuan untuk membina jasmani anak sehingga organ tubuh dapat bertumbuh kembang secara maksimal. Pelajaran budi pekerti bertujuan untuk membekali anak agar memiliki etika yang baik dalam kebiasaan sehari-hari. Sedangkan pelajaran seni bertujuan untuk memperhalus perasaan serta melatih kepekaan serta daya khayal atau imajinasi. Selanjutnya kurikulum untuk anak usia 6 sampai 14 tahun mencakup pelajaran membaca, menghafal Al-Qur'an, pelajaran agama, syair, dan pelajaran olah raga. Pelajaran membaca dan menghafal Al-Qur'an berguna untuk mendukung pelaksanaan ibadah yang memerlukan bacaan ayat-ayat suci Al-Qur'an, serta untuk mendukung keberhasilan dalam mempelajari agama islam seperti pelajaran tafsir, fikih, tauhid, dan pelajaran agama lainnya yang sumber utamanya adalah Al-Qur'an. Dengan demikian, Al-Quran tetap menjadi fondasi utama dalam pembetukan identitas seseorang.

Selanjutnya, usia 14 tahun menurut Ibnu Sina adalah saat dimana siswa dibina sesuai minat dan bakatnya, tentunya dengan mempertimbangkan kesiapan serta linimasa siswa. Siswa dapat dibina untuk menentukan mata pelajaran yang diminatinya. Di antara mata pelajaran tersebut dibagi ke dalam mata pelajaran yang bersifat teoritis dan praktis. Mata pelajaran yang bersifat teoritis antara lain ilmu tentang materi dan bentuk, gerak dan perubahan, wujud dan kehancuran, tumbuh-tumbuhan, hewan, kedokteran, astrologi, dan kimia, serta ilmu tentang ruang, bayang dan gerak, memikul beban, timbangan, cermin ilmu dan memindahkan air yang secara keseluruhan tergolong ilmu matematika. Terdapat pula ilmu tentang cara turunnya wahyu, hakikat jiwa pembawa wahyu, mukjizat, berita gaib, ilham, dan ilmu tentang kekekalan ruh setelah berpisah dengan badan yang secara keseluruhan disebut ilmu ketuhanan. Mata pelajaran yang bersifat praktis adalah ilmu akhlak yang menjadi kajian mekanisme tingkah laku seseorang (psikologi), ilmu hukum, ilmu politik, dan ilmu jasmani, dan ilmu ekonomi. Dengan demikian, konsep kurikulum oleh Ibnu Sina tidak hanya sekedar mentransfer ilmu pengetahuan namun juga memperhatikan aspek kesiapan dan psikologis siswa, minat bakat siswa, serta fungsi. Selanjutnya, berkaitan dengan metode pembelajaran, terdiri atas metode talqin, demonstrasi, pembiasaan dan teladan, diskusi, magang, dan penugasan metode dera dan hukuman. Metode talqin perlu digunakan dalam mengajarkan membaca al-Qur'an, dimulai dengan cara memperdengarkan bacaan al-Qur'an kepada siswa, sebagian demi sebagian. Setelahnya siswa dapat menirukan berulang kali hingga hafal. Metode demonstrasi digunakan dalam pembelajaran yang bersifat praktis, seperti pada pelajaran menulis. Metode pembiasaan dan keteladanan menurut Ibnu Sina termasuk salah satu metode pengajaran yang paling efektif, khususnya dalam mengajarkan pelajaran yang berkaitan dengan aspek afektif, salah satunya akhlak. Cara tersebut secara umum dilakukan dengan pembiasaan dan teladan yang disesuaikan dengan perkembangan jiwa si anak, yang secara umum akan menirukan orang dewasa. Metode diskusi dapat dilakukan dengan model pembelajaran problem based learning dimana siswa akan diberikan suatu masalah yang dapat berupa pertanyaan problematis untuk dapat dibahas dan ditemukan solusinya secara bersama sama. Ibnu Sina mempergunakan metode ini untuk mengajarkan pengetahuan yang bersifat rasional dan teoretis. Metode magang dapat secara efektif digunakan untuk mengaplikasikan teori yang telah dipelajari siswa. Metode ini akan menimbulkan manfaat ganda, yaitu di samping akan mempermahir siswa dalam suatu bidang ilmu, juga akan mendatangkan keahlian dalam bekerja yang menghasilkan kesejahteraan secara ekonomis. Metode penugasan dapat diberikan untuk melatih tanggung jawab siswa serta memicu siswa untuk memperdalam pemahaman. Metode targhib dan tarhib (hadiah dan hukuman) dapat diberikan dalam rangka memberi kode kepada siswa untuk dapat mengetahui mana tindakan yang perlu dipertahankan dan mana tindakan yang tidak boleh terulang.

Dari beberapa metode yang diuraikan di atas, terlihat bahwa konsep pendidikan Ibnu Sina memberikan perhatian yang serius terhadap pendidikan. Paling tidak ada empat karakteristik metode yang ditawarkan oleh Ibn Sina, yaitu: pertama, pemilihan dan penerapan metode harus disesuaikan dengan karakteristik materi pelajaran. Kedua, metode juga diterapkan dengan mempertimbangkan psikologis peserta didik, termasuk bakat dan minat anak. Ketiga, metode yang ditawarkan tidaklah kaku, akan tetapi dapat berubah sesuai dengan kondisi dan kebutuhan peserta didik dan keempat, ketepatan dalam memilih dan menerapkan metode sangat menentukan keberhasilan pembelajaran. Jadi konsep tersebut diatas jika direlevansikan dengan tuntutan zaman hingga saat ini ada saling ketergantungan dan masih tepat untuk diterapkan. Itu artinya Ibn Sina memang memahami konsep pendidikan baik secara teoritis maupun secara praktis sehingga pemikiran yang ia kemukakan tidak hanya berlaku pada masanya, melainkan jauh melampaui masa tersebut.

Dengan konsepsi pendidikan tersebut, memungkinkan terbentuknya seorang cendekia muslim yang memiliki keterampilan dasar dalam segala aspek namun juga memiliki potensi khusus yang handal, sehingga memiliki daya jual yang mampu bersaing di tengah gempuran persaingan era society 5.0 yang semakin ketat. Selain itu, dengan menjadikan al-Qur'an sebagai fondasi ilmu pengetahuan, menjadikan seseorang mampu untuk mengintegrasikan ilmu pengetahuan duniawi dan ilmu agama. Sehingga apa yang diperoleh dapat bermuara kepada Sang Pemberi dan apa yang ditemukan dapat bermuara pada Sang Pemilik. Tercetaklah generasi Muslim yang memahami agama secara mendalam, berkompeten pada bidangnya, mampu menunjukkan eksistensi pada masyarakat, berpengetahuan, beretika, berperasaan, peka, sehat secara jasmaniah, serta mampu mengamalkan ilmu pengetahuannya.

Daftar Pustaka
Dwiyama, Fajri. “Pemasaran Pendidikan Menuju Era Revolusi Industri 5.0.” ADAARA: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol. 11, no. No. 1 (February 2021).
Handi, Ahmad Zainul. TUJUH FILSUF MUSLIM Pembuka Pintu Gerbang Filsafat Barat Modern. Yogyakarta: PT. LKiS Printing Cemerlang, 2010.
Rasyid, Idris. “Konsep Pendidikan Ibnu Sina Tentang Tujuan Pendidikan, Kurikulum, Metode Pembelajaran, Dan Guru.” EKSPOSE: Jurnal Penelitian Hukum Dan Pendidikan Vol 18, no. No. 1 (2019).
Yusuf, Muhammad. “Dikotomi Pendidikan Islam: Penyebab Dan Solusinya.” Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. 1, no. No. 1 (June 2021).
Yusuf, Muhammad. “PENDIDIKAN HOLISTIK MENURUT PARA AHLI.” Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Darud Da’wah Wal-Irsyad ( DDI, 2021.

Sabtu, 14 Desember 2024

PK IMM Djazman Al-Kindi Umpo Gelar Sekolah Demokrasi Pendidikan

Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PK IMM) Djazman Al-Kindi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Ponorogo (FKIP Umpo) bekerjasama dengan Majelis Pendidikan Dasar Menengah (Dikdasmen) dan Pendidikan Non Formal (PNF) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Ponorogo menggelar Sekolah Demokrasi Pendidikan (SDP), Sabtu -Ahad (29-30/6/24).

Kegiatan bertema “IMM Sebagai Pilar Pendidikan Untuk Mencetak Generasi Emas 2045” tersebut bertempat di Ruang Seminar Dome Umpo dengan jumlah peserta 25 orang.

Ketua Umum IMM Djazman Al-Kindi Satrio Nugroho mengatakan tujuan kegiatan tersebut untuk menguatkan tali silaturahmi dan ukhuwah mahasiswa.

“Mudah-mudahan ini bisa melahirkan kader ikatan yang mampu melanjutkan gerakan, membentuk dan juga menguatkan spirit dalam ber-IMM serta meningkatkan kualitas kader ikatan dalam berfastabiqul khairat,” ujarnya.

Lebih lanjut Satrio juga mengungkapkan rasa terimakasihnya kepada Majelis Dikdasmen dan seluruh pihak yang telah membatu jalannya acara.

“Saya berharap kerjasama ini terus berlanjut di program-program berikutnya, ” imbuhnya.

Kerjasama tersebut pun diapresiasi oleh Ketua Umum Pimpinan Cabang IMM Ponorogo Agus Miftaqul, dalam sambutannya Agus berharap kegiatan ini mampu menginspirasi komisariat-komisariat lain.

Mengingat pentingnya pendidikan, kegiatan seperti ini sangat perlu agar mampu membangun bangsa mewujudkan generasi emas 2045,” ucapnya.

Sambutan baik pun muncul dari Ketua Majelis Dikdasmen PDM Ponorogo Drs Idris Septrianto, dia mengajak seluruh peserta agar menyukseskan kemajuan pendidikan Muhammadiyah.

“Karen peran kalian sebagai mahasiswa sangat vital bagi kemajuan pendidikan,” tandasnya. .

Sementara wakil BP3DI menyampaikan IMM harus menjadi pilar generasi muda untuk keberlangsungan dan masa depan bangsa ini.

“Trikoda IMM harus dimaknai secara luas agar nanti hasilnya kader kader IMM mampu menjadi pemimpin di masa yang akan datang,” ungkapnya.



Studi Independen Kewargaan PPKn UMPO: Meneguhkan Kepemimpinan, Kebangsaan, dan Kearifan Lokal di Pulau Dewata

Karya: Muhammad Hussain Syawaludin Utama Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) Universitas Muhammadiyah Ponorogo (UM...