Karya: Guntur Swandaru
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan/masa depan) mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” QS an-Nisa ayat 9
Pengkader dan kader bisa diibaratkan seperti hubungan seorang guru dan murid dalam sebuah sekolah. Seorang Guru berperan sebagai orang yang memberikan pengajaran, dorongan, dan arahan kepada murid untuk membantu mereka tumbuh dan berkembang dalam hal pengetahuan, keterampilan, dan karakter. Sama halnya, pengkader memberikan bimbingan dan dukungan kepada kader untuk mengembangkan potensi mereka dalam konteks organisasi yang mereka jalani. Seperti seorang guru yang menginspirasi dan membimbing muridnya, pengkader juga berperan dalam membimbing dan mendukung kader untuk mencapai tujuan mereka. Dalam hal ini pengkader menjadi peranan penting didalam perkaderan dalam suatu organisasi dan harus menjadi Suri tauladan atau contoh yang baik bagi kader - kadernya untuk mengajarkan tentang kebaikan dan hal - hal lain guna mengembangkan/ memaksimalkan potensi dari setiap Kadernya. Dalam perkaderan, IMM memiliki Sistem Perkaderan Ikatan sebagai acuan atau patokan dasar dalam mengkader yang didalam nya tidak hanya melulu soal bagaimana mengkader tetapi juga ada apa yang akan di sampaikan dalam hal ini Ideologi dasar (Tri Koda & Tri Logi).
Walaupun SPI sudah ada namun bobot untuk di gunakan dalam mengkader masihlah kurang maka dari itu perlu adanya buku - buku pendukung seperti Geneologi Kaum Merah, Kelahiran yang dipersoalkan, Ilmu Amaliah Amal Ilmiah dan masih banyak lagi. Namun, ada fenomena Instruktur "Karbitan" atau dibuat matang dalam waktu singkat, layaknya buah muda yang tak butuh waktu lama untuk di jual dengan menaburkan "Karbit" agar mempercepat penuaan, atau lebih tepatnya mempercepat proses tingkat pembusukan. Dalam hal perkaderan selayaknya pengkader telah menyeselaikan Ideologisnya sebelum beranjak ke arah Instruktur (pengkader), banyak di jumpai para Instruktur (pengkader) yang ternyata masih belum memahami tentang Ideologi IMM sehingga dalam mengimplementasikannya dirasa kurang tepat dan bahkan dalam pemahaman setiap individu Instruktur (pengkader) pun berbeda/ bertentangan. Karena mereka sebelum mengikuti perkaderan lanjutan dalam hal ini Pelatihan Instruktur Dasar (PID) adalah orang - orang yang tidak di siapkan dan hanya butuh waktu satu bulan semenjak mendaftar (Setelah ada niatan untuk mengikuti Perkaderan lanjutan) barulah mereka memulai untuk membaca semua buku - buku Ideologis IMM maupun Muhammadiyah yang jumlahnya tidak sedikit, apakah mereka mampu menyelesaikannya? mungkin selesai tetapi dalam memahami suatu Konteks mereka butuh waktu yang cukup lama satu bulan saja tidak cukup.
Hal seperti ini haruslah kita sadari dan kita renungkan bersama, tentang mau dibawa kemana (Perkaderan) IMM kedepannya yang mana pengkader yang harusnya telah selesai Ideologis dan menjadi Kader Profetik. Maka dari itu kejadian seperti haruslah kita Rekontektualisasikan Ideologis IMM, kita perlu yang Namanya Revolusi Gerakan dengan menabahkan pendidikan Khusus Ideologis. Agar supaya para kader telah selesai dalam Ideologisnya, juga menjadi pantikan atau wadah untuk menyiapan para calon - calon kader lanjutan entah itu Perkaderan PID atau bahkan Perkaderan Darul Aarqom Madya (DAM). Pendidikan Khusu (Diksus) Ideologis "Lingkar Ikatan" adalah kegiatan yang merupakan Kulturasi Perkaderan tambahan (Akademisi) seperti Majelsi Intelektual Kader (MIK), Pendidikan Politik (DikPol), Camp Book dengan Perkaderan Lanjutan seperti PID maupun DAM yang nantinya Output dari kegiatan ini adalah menciptakan garda terdepan untuk membantu peran Instruktur menyelesaikan Ideologisasi IMM agar berjalan maksimal seperti seharusnya. Bila kader telah menyelesaikan Idelogisnya maka pengkader (Instruktur - BPH) tidak ragu lagi memberikan materi lain seperti Politik dll karena mereka tidak akanmudah goyah dan selalu ingat tempat kembali yakni rumah IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH.
Dalam melakukan kegiatan perkaderan semacam ini, perlu kita memahami terlebih dahulu beberapa Kultur yang nantinya akan di kulturasikan seperti MIK, Dikpol, Camp Book dengan sistem yang digunakan adalah bedah buku walau coraknya buku – buku Filsafat/ bedah pemikiran tokoh melalui karya – karyanya. Kemudian ada kultur perkadernan lanjutan seperti PID dan DAM yang berfokus pada peserta diarahkan untuk berfikir kritis menyikapi suatu permasalahan (Study Kasus) dengan mengedepankan keaktifan dan daya kritis serta terampil saat dihadapkan suatu penyelesaian/ permasalahan (Problem Based Learning).
Kedua kultur ini memiliki kesamaan yakni membuat pesertanya menjadi tambah wawasan serta keberanian berpendapat (Kritis) walau keduanya juga memiliki perbedaan mencolok pada pematerinya. Pada MIK, Dikpol, Camp Book peserta berperan sebagai pemateri atau pemantik untuk menyampaikan terkait gagasan para tokoh yang sebelumnya di bagikan oleh fasilitator, dan fasilitator disini berperan kontrol peserta agat tidak keluar dari jalur/ gagasan tokoh yang di sampaikan oleh peserta. Hal ini memang terkesan memaksakan peserta untuk membaca, menganalisa, hal – hal penting/ benang merah dari para tokoh yang nantinya akan di sampaikan, tetapi positifnya peserta dapat dengan mudahnya memahami suatu hal (Pemikiran tokoh) lebih cepat dan tetap sesuai dengan dasar/ buku dari para tokoh. Tetapi berbeda cerita dengan perkaderan lanjutan, PID maupun DAM yang mana pemateri bukan dari peserta atau dalam hal ini peserta mendapati informasi (Ilmu) dari pemateri yang telah disiapkan oleh penyelenggara dan kemudian ilmu tersebut dijadikan bekal untuk menyelesaikan suatu permasalahan (Study Kasus) dengan konsepan Fokus Grub Diskusi (FGD) kemudian disampaikan dan di diskusikan.
Oleh karena itu, penulis mencoba mengkulturasikan semua itu untuk me – Rekontekstualisasikan Ideologi IMM yang semakin luntur karena tidak maksimalnya perkaderan, juga untuk menyiapkan para kader melanjutkan ke perkaderan selanjutnya yakni PID maupun DAM, serta menjadi alternatif solusi untuk memaksimalkan Follow UP Darul Aarqom Dasar (DAD) karena adanya keterbatasan dari para Instruktur. Karena nantinya akan ada pantikan bagi kader yang mengikuti Diksus Ideologis "Lingkar Ikatan" untuk membaca buku – buku Ideologi IMM maupun buku – buku penguat lain di seputaran Ikatan (Muhammadiyah) lebih awal, agar nantinya bila ada perkaderan lanjutan mereka tinggal mengulang apa yang sudah/ pernah di bahas sebelumnya. Salain itu karena kegiatan ini dilakukan di bulan - bulan akhir perkaderan (Setelah 6 Bulan/ Fase kedua) tahun ke dua untuk mempersiapkan perkaderan selanjutnya.
Diksus Ideologis "Lingkar Ikatan" dilaksakan dalam beberapa hari penuh dengan bertujuan untuk membuat peserta focus dan menciptakan lingkungan literasi yang ideal (Ketenangan). Ada 3 fase yang akan diikuti oleh peserta yakni Pra (Sebelum), Saat dan Paska (Setelah) dengan pembahasan seputar Ideologisasi IMM sampai Muhammadiyah agar peserta dapat memahami intisari dari setiap bahasan tersebut. Agar kegiatan ini ada arsip yang bisa di manfaatkan/ digunakan oleh seluruh kader kembali, maka dari itu setiap kali forum di mulai ada wujud dokumentasi berupa Audio (Pordcast) yang kemudian di simpan pada pladfom Sportify agar semua dapat mengaksenya. Pada fase Pra (Sebelum) peseta akan diberi dasaran materi dalam hal ini nanti tentang “Apa itu IMM” untuk menjadi refleksi bagi peserta selama satu tahun menjadi kader. Kegiatan Pra (Sebelum) ini dilakukan kurang lebih 1 minggu sebelum hari H Diksus Ideologis "Lingkar Ikatan" dengan tujuan untuk memberikan persiapan bagi peserta maupun ceking panitia terkait kepastian peserta. Setelah mengikuti kegiatan Pra (Sebelum) maka selanjutnya akan dilanjut dengan kegiatan inti/ hari H Diksus Ideologis "Lingkar Ikatan" yang mana peserta akan dibentuk kelompok belajar dan dibagi materi – materi untuk nantinya disampaikan dan di diskusikan pada forum.
Kurikulum yang akan digunakan nanti dimulai dengan Hermeneutika agar supaya peserta memiliki bekal untuk mengkaji suatu konteks dan mudah mendapati benang merah dari setiap pembahasan. Kemudian dilanjut dengan materi Kemuhammadiyahan, mulai dari sejarah sampai Tarjih/ Hukum – hukum yang dimiliki oleh Muhammadiyah agar peserta dapat menjalankan segala hal di kehidupanya sesuai dengan Tarjih atau setidaknya mengetahui persoalan tersebut. Setelah pembahasan terkait Kemuhammadiyahan dilanjut membedah tentang KeIMM – an, mulai dari kelahiran yang di persoalkan (Sejarah), Geneologi Kaum Merah sampai IMM Autentik atau segala sesuatu yang ada hubunganya dengan IMM. Pembahasan terakhir yang akan diberikan adalah membedah SPI dari awal mula ayat – ayat perkaderan samapi profil kader IMM yang ideal, dengan nantinya setelah selesai akan diberi beberapa hal Praktis yakni simulasi agar nantinya saat peserta mengikuti perkaderan lanjutan maupun mengisi di dalam forum lebih mudah menguasai medan. Dan semua itu akan dibagi sesuai jumlah kelompok serta mempertimbangakn waktu yang ada, dengan jumlah peserta per kelompok tidak lebih dari 2 orang supaya nantinya para peserta dapat merasakan pengalaman menjadi pemantik/ pemateri hal ini juga membuat mereka belajar tentang Publik spiking juga.
Sesuai dengan apa yang dikatakan Drs. H. Mohamad Djazman Al – Kindi (Pendiri Organisasi Ikatan Mahasiswa Muhamamdiya) yang mana apabila kita memiliki ilmu haruslah di amalkan dan bila kita mengamalkan sesuatu harus dengan ilmu (Ilmu Amaliyah, Amal Ilmiah). Makadari itu setelah menyelesaikan rangkaian kegiatan tersebut selanjutnya peserta mengamalkan ilmunya atau dalam hal ini melakukan RTL (Rencan Tindak Lanjut) untuk dibagikan kepada kader – kader IMM lainya. Ada beberapa opsi yang bisa digunakan seperti membantu Instruktur untuk menyelesaikan Follow Up dengan membuat kajian tentang Ideologisasi yang nantinya akan di damping oleh Instruktur agar nanti dapat di bantu bila terjadi kendala dan tetap pada koridor yang benar. Kemudian opsi lain dengan mengikuti perkaderan lanjutan seperti PID maupun DAM yang tentunya mereka sudah siap melakukan perkaderan lanjutan, karena sesuai dengan tujuan dari kegiatan Diksus Ideologis "Lingkar Ikatan" yakni mempersiapkan Kader yang matang untuk melakukan perkaderan lanjutan (PID maupun DAM). Selain kedua opsi tersebut para alumni Diksus Ideologis "Lingkar Ikatan" akan diberdayakan untuk menjalankan diskusi – diskusi seputaran dinamika Ikatan yang kemudian didokumentasikan audionya (Podcast) dan dipublikasikan pada platfom Sportify atau yang lainya.
Kita perlu sadari apa yang disukai oleh kader sebelum memberikan suatu ilmu atau bahkan Ideologi yakni tentang adanya kader yang suka dengan berdiskusi langung, kader yang hanya suka mendengar, maupun kader yang ingin membaca tetapi tidak adanya waktu atau momen tertentu untuk membaca sesuatu. Agar semua kader mendapati hak yang sama seputar keilmuan bahkan Ideologi IMM, serta karena adanya dokumentasi audio tersebut juga membantu para Instruktur mudah dalam mengingat materi kembali. Adanya kemajuan zaman, kita IMM jangan sampai tertinggal dengan modernisasi seperti Pordcast tetapi kita manfaatkan untuk menyebarluaskan hal – hal posifit termasuk Ilmu – Ilmu seputaran IMM maupun dinamika yang sedang terjadi. Seperti yang dikatakan didalam buku Atomik Habbit “Perubahan besar bukan dimulai dari hal yang besar akan tetapi dimulai dari perubahan yang kecil dengan adanya konsistensi maka akan menjadi hal besar suatu saat nanti, Tidak ada kata tidak mungkin tetapi adanya mau di mulai kapan? Sekarang atau tidak sama sekali!” Karena kegiatan ini tidak akan menjadi sempurna di tahun pertama, tetapi dari ketidak sempurnaan itulah yang nantinya membawa Diksus Ideologis "Lingkar Ikatan" ini menjadi salah satu kegiatan yang bermanfaat bagi Ummat terutama bagi IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH nantinya. IMM Jaya – Jaya Selamanya.
Daftar Pustaka
Ahmad Sholeh. 2017. IMM Autentik, Melacak Autentisitas dan Substansi Gerakan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Surabaya: Pustaka Saga.
Dr. H. Haedar Nashir, M. Si. 2017. Memahami Ideologi Muhammadiyah. Jogjakarta: Penerbit Suara Muhammadiyah.
James Clear. 2018. Atomic habits. New York, New York, Avery: Penguin Random House.
Mohamad Djazman Al-Kindi. 2019. Ilmu Amaliyah Amal Ilmiah. Jogjakarta: Penerbit Suara Muhammadiyah.
MPK PP Muhammadiyah. 2016. Sistem Perkaderan Muhammadiyah. Jogjakarta: Penerbit Suara Muhammadiyah.
Muhammad Abdul Halim Sani. 2020. Manifestasi Gerakan Intelektual Profetik. Jogjakarta: Penerbit Suara Muhammadiyah.
Pimpinan Pusat Muhammadiyah. 2008. Sistem Perkaderan Muhammadiyah. Jogjakarta: Penerbit Suara Muhammadiyah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar