Minggu, 21 Desember 2025

IMPLEMENTASI “NO VIRAL, NO JUSTICE” DALAM MENGATASI PENCEMARAN AIR AKIBAT LIMBAH SAMPAH DI TPST DESA MRICAN

Karya: IMMawan Guntur Swandaru

Muhammadiyah sebagai Gerakan islam yang berkemajuan hadir untuk mensyiarkan Islam sebagai “Rahmatan Lil Alamin” atau bermanfaat bagi semua aspek kehidupan. Bapak Haedar Nasir (2023) pernah mengatakan “Sampah jadi ancaman kehidupan yang merusak ekosistem, akar masalah bermula dari sikap hidup manusia” dalam pernyataan tersebut yang menjadi persoalan dari sampah yang kian menggunung tidak lain dan tidak bukan dari budaya masyarakat itu sendiri, seperti masih suka membuang sampah sembarangan atau dalam hal ini tidak di pisah sesuai dengan kategorinya. Muhammadiyah sebagai bapak sudah memberikan sikap dan solusi seperti adanya sedekah sampah, namun hal ini masih terbilang kurang efektif karena permasalahan informasi yang tidak merata. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah sebagai anak dari Muhammadiyah serta sebagai Agen of Change melihat fenomena ini sangat tergugah untuk membantu mengatasinya agar para petani dapat mendapatkan kesejahteraan seperti seharunya. Ikatan Mahasiswa Muhamamdiyah sebagai garda terdepan dalam kemahasiswaan, sesuai tujuannya mencetak akademisi Islam yang berakhlak mulia dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah yakni menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya dengan Tri Logi dan Tri Koda sebagai jati diri Kader IMM.

Sesuai dengan Tri Logi (keagamaan, kemahasiswaan, dan kemasyarakatan) dan Tri Koda (religiusitas, intelektualitas, dan humanitas) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah sendiri ingin mencetak kader – kader yang tidak hanya mahir dalam Intelektualitas atau pengetahuan dan Keagaamaan saja akan tetapi juga dapat berdampak bagi lingkunga masyarakat ataupun alam itu sendiri. Sebagai kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah yang sedari awal sudah diajarkan tentang keberdampakan manusia terhadap masyarakat dan atupun lingkungan alam sehingga munculnya rasa memiliki untuk merawat dan menjaganya agar tidak rusak. Perlu kita pahami ada konsep “Hablum Minallah dan hablum Minannas” atau hubungan kita dengan Allah dan hubungan kita dengan manusia karena kita sebagai umat muslim yang harus taat kepada perintah Allah SWT dan juga sebagai maklusk sosial maka perlu adanya hubungan dengan manusia. Namun kita suka melupakan tentang alam itu sendiri, padahal dalam kehidupan kita, alam selalu membantu untuk melakukan apapun bahkan memnuhi kebutuhan kita. Maka dari itu kita perlu memperhatikan kembali keberadaan alam dengan menambahi “Hablum Minna allam” layaknya seperti kita dengan manusia bila berbuat baik kepada sesame manusia maka kita akan kembali baik pula. Alam pun sama bila kita berdampak baik kepadanya dengan merawat dan menjaga alam akan baik kepada kita, sebaliknya bila kita jahat kepadanya maka alam akan memberikan sisi kekejamannya seperti mendatangkan musibah.

Zaman sekarang sudah sangat pesat perkembangannya sampai – sampai kita mau mencari apa saja akan mudah untuk menemukan, mau makanan jenis apa saja banyak variasinya ataupun minuman banyak beredar dimana – mana. Warga Ponorogo sendiri termsuk kedalam masyarakat konsumtif terhadap prodak seperti makanan, minuma, kebutuhan rumah dll yang mana semua hal tersebut akan menciptakan limbah sampah dengan jumlah yang cukup banyak. Kecamatan Ponorogo kota sendiri menjadi pemasok sampah yang cukup banyak setiap harinya ke tempat pembuangan sampah terpadu (TPST) yang berada di Desa Mrican. Setidaknya ada sekitar 70 ton sampah yang masuk setiap harinya dan ini angka yang cukup besar karena TPST sekarang mengalami over capacity. Pemerintahan yang di pimpin oleh bapak Sugiri Sancoko sendiri pada bulan Agustus 2023 lalu memberikan solusi untuk mendirikan pabrik produksi sampah yang diolah menjadi briket namun jumlah hasil produk ini dengan sampah yang masuk masih belum dapat mengurangi volume sampah pada TPST Ponorogo di desa Mrican.

Sungai seringkali disebut sebagai “Nadi Kehidupan” memang sangat tepat. Sungai tidak hanya menjadi sumber air bagi makhluk hidup, tetapi juga menjadi pusat peradaban manusia sejak zaman purba. Perannya dalam sektor pertanian khususnya, begitu mendasar dan kompleks tanpa adanya aliran sungai yang menggenangi persawahan, tanaman seperti padi akan susah untuk tumbuh dan ini menjadi masalah yang cukup serius terutama di Ponorogo sendiri kurang lebih sekitar 72% warganya adalah petani. Namun karena letak TPST ini sendiri bersebelahan dengan sungai dan sering terjadi sampah yang terjatuh masuk ke aliran sungai dan mencemarinya karena volume sampah yang kian banyak. Pencemaran sungai imbas sampah ini mengakibatkan gagal panen yang sangat berdampak pada para petani karena sawah menjadi penghasilan utama mereka.

Sebagai anak muda, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah memiliki kencenderungan media sosial yang cukup tinggi sehingga mengetahu konten – konten apa saja yang di minati oleh anak muda pada umunya, terlebih ada konten Viral seperti Pandawara Grub dengan sampahnya ataupun konten “No Viral, No Justice” ini memicu kami untuk membantu tujuan dari bapak kita yakni Muhammadiyah dalam mengatasi permasalahan sampah. Dengan adanya pembuatan konten tentang menjaga kebersihan, memilha sampah, adanya sedekah sampah dll secara massif dilakukan oleh kader – kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Se Ponorogo dapat di pastikan mudah nantinya konten tersebut menjadi Viral dan menjadi bahan evaluasi sendiri – sendiri atau malah mereka ikut untuk memberi dampak positif terhadap lingkungan. Dimulai dari hal kecil yang kita terapkan dan massif akan berdampak besar bagi masa depan terutama sektor sampah di Ponorogo. Bila mana hal ini dilakukan terusm menerus dan pola piker masyarakat di Ponorogo mulai kian berubah, dapat dipatikan volume sampah di TPST desa Mrisan akan mulai berkurang dan mungkin akan mendapatkan berkah lainnya seperti adanya pekerjaan baru untuk mengolah limbah sampah karena sudah mulai membudayakan filterisasi sampah sesuai kategorinya.

Persolana sampah ini yang semula negative dan berdampak buruk bagi masyarakat, terutama desa Mrican karena tidak hanya sawahnya saja yang terdampak tetapi fisik masyarakat sendiri juga terkena imas seperti mulai terkena penyakit kulit nantinya akan membaik. Seperti yang telah dibahas di awal bila kita berdampa baik kepada alam maka alam akan mendatangkan berkah kepada kita, karena limbah sampah yang sudah difilter tadi dapat bermanfaat menjadi berbagai olahan atau produk seperti hastakarya atau kriya, biogas, briket, dll yang dapat dijual untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di dalam maupun di luar Ponorogo itu sendiri. Dimulai dari hal kecil seperti pembuatan konten yang viral, menghasilkan lapangan pekerjaan dan kesadaran masyarakat itu mulai tumbuh.

Ponorogo sendiri sebagai Kota Reog dan Kota Santri nantinya akan bertambah gelar atau namanya menjadi Kota Adipura Kencana layaknya Surabaya dan kota – kota lainnya karena kebersihan dan tidak lagi muncul persoalan sampah karena sampah bukan lagi menjadi suatu masalah tetapi menjadi rahmat atau berkah bagi masyarakat kota Ponorogo sendiri. Perlu adanya juga Duta Sampah atau pelopor Ekologi sebagai garda terdepat buat kedepannya yang di mulai dari kader – kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Tanpa mereka atau kita yang memulai sadar, masyarakat akan susah dan lamban bahkan pemerintah pun nantinya juga aka lalai dan mengulang kesalahan yang sama, buat kemaslahatan Ponorogo tercinta kita juga harus memberikan yang terbaik buat semuanya, entah itu kepada Tuhan kuta Allah SWT, kepada manusia sebagai maklusk sosial ataupun kepada Alam yang kita huni ini atau bisa disebut “Hablum Minnallah, Hamblum Minnnan Nas, Hablum Minnal Alam”.

REFRENSI

Awaludin, L. (2017). Hablumminallah Hablumminannas sebagai Sumber Inspirasi Penciptaan Karya Seni Lukis (Doctoral dissertation, INSTITUT SENI INDONESIA (ISI) SURAKARTA).

Awaludin, L. (2017). Hablumminallah Hablumminannas sebagai Sumber Inspirasi Penciptaan Karya Seni Lukis (Doctoral dissertation, INSTITUT SENI INDONESIA (ISI) SURAKARTA).

Max Weber. 2006. Sosiologi/ Max Weber; Noorkholis dan Tim Penerjemah. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Mohamad Djazman Al-Kindi. 2019. Ilmu Amaliyah Amal Ilmiah. Jogjakarta: Penerbit Suara MUuhammadiyah.

Muhammadiyah Januari 2023 sampah ancaman besar bagi kehidupan 08/01/2025 21.25 https://muhammadiyah.or.id/2023/09/sampah-ancaman-besar-kehidupan/#:~:text=Pergilah%20ke%20manapun%20di%20negeri,sampah%2C%20urusan%20akan%20tetap%20bermasalah.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah. 2022. Muhammadiyah Isu-Isu Strategis Keuimatan, Kebangsaan, dan Kemanusiaan Universal. Jogjakarta: Penerbit Suara MUuhammadiyah.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah. 2022. Risalah Islam Berkemajuan. Jogjakarta: Penerbit Suara MUuhammadiyah.

Robaeah, W. N. (2023). Konsep pendidikan Profetik perspektif Kuntowijoyo dan implementasinya dalam mata pelajaran Akidah Akhlak (Doctoral dissertation, UIN Sunan Gunung Djati Bandung).

Rodin, I., Ibrahim, D., & Munir, M. (2023). Nilai Nilai Tasawuf dalam Membentuk Keshalehan Sosial dan Menangkal Radikalisme Generasi Millenial (Study di Jamiyah Thoriqoh Mu’tabaroh An-Nahdliyah Kabupaten OKU Timur). Titian Ilmu: Jurnal Ilmiah Multi Sciences, 15(1), 42-53.

DPD PDIP Jawa Timur 10 Agustus 2024 Atasi Gunungan Sampah di TPA Mrican, Pemkab Ponorogo Resmikan TPST Mrican 08/01/2025 20.35 https://pdiperjuangan-jatim.com/atasi-gunungan-sampah-di-tpa-mrican-pemkab-ponorogo-resmikan-tpst-mrican/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Studi Independen Kewargaan PPKn UMPO: Meneguhkan Kepemimpinan, Kebangsaan, dan Kearifan Lokal di Pulau Dewata

Karya: Muhammad Hussain Syawaludin Utama Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) Universitas Muhammadiyah Ponorogo (UM...